Loading...

infeed1

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

DHARMADUTA

8:18 PM Add Comment
Latar belakang

            “aku telah bebas, o para bhikkhu, dari semua belenggu, baik surgawi maupun mansiawi”.”kalian juga, o para bhikkhu, telah bebas dari semua belenggu, baik surgawi maupun manusiawi”.

            “pergilah, o para bhikkhu, demi kebaikan semua pihak, atas dasar kasih sayang kepaa dunia, demi kebaikan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi dalam sat arah. Ajarkanlah, o para bhikkhu, dhamma, yang indah pada awal, indah pada pertengahan, indah pada akhirnya, baik yang tersirat maupun tersurat. Nyatakanlah Kehidupan Suci, yang sempurna dan murni”.

            “Ada manusia dengan sedikit debu pada mata mereka, yang jika tidak mendenggar dhamma akan jatuh. Mereka itulah yang akan memaham dhamma”.

            “aku juga, o para bhikkhu, akan pergike Uruvela di Senanigama, dalam rangka mengajar dhamma”.

“Kalian yang telah melaksanakn tugas kalian, kibarkanlah Bedera Orang Bijaksana. Ajarkanlah Dhamma Agnng. Bekerjalah demi kebaikan pihak lain”


Itulah yang dikataka Sang Buddha sewaktu mengutus murid- muridnya untukmenyebarkan Dhamma , sehingga Dharmaduta dilaksanakan.

Pengertian Dharmaduta

Dharmaduta, secara etimologis berasal dari dua kata yaitu “Dhamma” artinya ajarn Buddha sedangkan ‘Duta” adalah petugas atau pengemban. Dharma duta berarti Pengemban dan petugas Dhamma. Dharmaduta dalam terminologi Buddhis dikenal sebagai penyebar atau pengkhotbah Dhamma.

Tujuan Dharmaduta

            Secara khusus bertujuan untuk :

1.      Memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Ajaran Sang Buddha.

2.      Agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dhamma dan Vinaya secara benar.

3.      Melindungi Ajaran Buddha dari Usaha penyelewengan , sehingga umat menjadi bijaksana.

Buddha menyebutkan tujuan dhammaduta, agar umat menjadi :

1.      Bijaksana dalam melaksanakan peraturan (Sila/ Vinaya) secara benar

2.      Cakap dan terpelajar.

3.      Memelihara Dhamma.

4.      Hidup sesuai Dhamma.

5.      Berpegang teguh pada pemimpin yang telah ditetapkan ( dalam musyawarah ).

6.      Memepelajari sabda- sabda , khotbah- khotbah Sang Buddha, kemudian mnerangkan kepada orang lain.

Sejarah Dhammaduta

Pembabaran Roda Dhamma yang pertama kali di taman Rusa Isipatthana , itulah yang menjadi tonggak pertama sisitem ke-Dharmadutaan. Dharmaduta pertama kali dilaksanakan pada masa pemerintahan raja Asoka yaitu di tandai dengan pengiriman 9 kelompok dharmaduta ke sembilan penjuru, termasuk pengiriman dharmaduta ke Srilanka yang dipimpin oleh Arahat Mahinda Thera, putra dari Raja Asoka.Menurut mahavamsa , setelah mendapat perbekalan yang cukup Arahat Mahinda Thera bersama Thera Itthiya, Uttiya, Sambala, dan Baddhasala, Sumana Samanera  Upasaka Bhanduka terbang ke Srilanka, 236 setelah Mahaparinibbana dari Sang Buddha.

Kesimpulan

            Dharmaduta dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintaha Raja asoka dengan mengirimkan 9 kelompok Dharmaduta ke sembilan penjuru. Dan juga ke Srilanka yang dipimpi oleh anaknya Arahat Mahinda Thera. Dharmaduta bertujuan supaya ajaran Sang Buddha tetap lestari.

MEDITASI PRAKTIK UNIVERSAL

8:10 PM Add Comment
Book Review 2

Meditasi Praktik Universal

            Dalam agama Buddha meditasi sudah dikenal sejak jaman ketika Sang Buddha masih hidup. Bahkan banyak umat- umat lain juga suka dengan meditasi walaupun caranya berbeda.

Sahabat Dharma yang berbahagia. Banyak orang mengira meditasi hanyalah teknik agama- agama di Asia. Sejumlah penganut Yahudi dan Kristen bahkan berargumen bahwa meditasi tidak punya tempat yang sah dalam agama mereka, dengan mengatakan bahwa “pikiran yang kosong adalah tempat setan” atau “berpangku tangan adalah musuh jiwa”. Namun, semua orang yang telah meditasi tahu perbedaan yang besar antara berpangku tangan untuk bermalas- malasan dengan kedamaian yang dalam yang diperoleh dari praktik meditasi.

Dengan melaksanakan meditasi bukan hanya kedamaian yang diperoleh namun pencapaian yang lebih tinggi juga akan diperoleh dengan syarat kita juga memiliki landasan Sila yang baik. Dengan demikian maka nafsu keinginan dapat dikikis secara perlahan. Meditasi dapat dilakukan dalam waktu yang sesuai asal diri kita siap baik dari jasmani maupun batin kita. Sebaiknya kita tidak memandang salah sebuah hal sebelum membuktikannya. Faktanya meditasi mulai berkembang dimana- mana bukan hanya untuk kepentingan spiritual semata namun juga untuk kepentingan kesehatan tidak memandang agama, bahkan sekarang anak kecil sudah diberikan pelajaran tentang meditasi beserta praktiknya.

Referensi:

Chandra, Johny. 2007. Pejuang Batin. Surakarta: Vihara Dhamma Sundara



GHOTAMUKHA SUTTA

8:05 PM Add Comment
Kepada Gothamukha
Tempat: Khe­miyambavana, Baranasi.

Inti Sutta

                 Suatu diskusi terjadi antara Bhante Udena dan seorang brahmana bernama Ghoṭamukha berkenaan dengan praktek kehidupan suci. Bhante Udena menjelaskan 4 macam manusia yang menjalani praktek pertapa.
  1. Ada orang yang suka menyiksa dirinya, tertarik dalam penyiksaan dirinya.Di sini seorang manusia yang telanjang, menolak adat, menjilat tangannya, tidak datang bila ditanya, tidak berhenti bila ditanya; dia tidak menerima apa-apa dari luar dari sebuah pot, dari luar sebuah mang­kok, melewati ambang pintu, melewati tongkat, melewati sebuah alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama-sama, dari seorang wanita yang bersa­ma anaknya, dari seorang wanita yang sedang menyususi anaknya, dari (tempat) seorang wanita yang sedang berbaring, dari tempat makanan yang diiklankan untuk disalurkan, dari tempat seekor anjing sedang menunggu, dari tempat lalat mendengaung; dia tidak menerima daging atau ikan, dia tidak minum minuman keras, anggur atau minuman yang memabukkan; dia tetap ke satu rumah, untuk sesuap  makanan; dia tetap ke dua rumah, untuk dua suap makanan .... Ia tetap ke tujuh rumah, untuk tujuh suap makanan. Dia hidup dengan satu cawan, dengan dua cawan .... Dengan tujuh cawan, sehari; dia mengambil makanan sehari seka­li, dua hari sekali .... Tujuh hari sekali, dan begitulah sampai empat belas hari sekali. Dia tetap mengikuti praktik mengambil makanan pada saat istira­hat. Dia seorang pemakan sayur-sayuran, atau padi-padian, atau padi liar, atau dedak, atau lumut, atau dedak padi, atau ampas, atau tepung sesamun, atau rumput, atau pupuk sapi; dia hidup dengan akar hutan dan dengan buah-buahan sebagai sumber rezeki pengisi perut. Dia berpakaian dengan rami, dengan pakai­an yang bercampur rami, dengan kain kafan, dengan kain compang-camping yang sudah tak terpakai, dengan kulit pohon, dengan kulit rusa, dengan barang tenunan rumput kusa, dengan barang tenunan kulit pohon, dengan barang tenunan kulit kayu, dengan wol rambut kepala, dengan wol hewan, dengan sayap burung hantu. Dia yang mencukur rambut dan jenggotnya, mengikuti praktek mencukur rambut dan jenggotnya. Dia yang berdiri terus menerus, menolak tempat duduk. Dia yang jongkok terus menerus, setia untuk tetap berposisi jongkok. Dia merupakan seorang yang menggunakan matras yang  berpaku besar; dia membuat matras berpaku besar sebagai tempat tidurnya. Dia tetap mengikuti praktik mandi dalam air untuk waktu yang ketiga kalinya di malam hari. Nyatanya dia tetap mengikuti praktik penyiksaan dan penganiayaan tubuh dalam aspek utama­nya. Inilah manusia yang disebut penyiksa diri, yang senang dengan penyiksaan diri.
  2. Ada orang yang suka menyiksa orang lain , dan tertarik dalam penyiksaan orang lain. Di sini ada manusia yang merupakan penjagal domba, penjagal babi, penjagal unggas, pemasang perangkap binatang buas, seorang pemburu, seorang penangkap ikan, pelaksana hukuman untuk narapidana, seorang penjaga penjara, atau mengikuti pekerjaan berdarah lainnya. Inilah yang dise­but manusia yang menyiksa makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
  3. Ada orang  yang suka menyiksa dirinya sendiri, terta­rik dalam penyiksaan diri sendiri, juga ia menyiksa orang lain, tertarik  dalam penyiksaan orang lain. Di sini seseorang  yang merupakan prajurit yang mulia yang memberi perminyakan suci, raja, atau hartawan besar. Dia mempunyai kuil suci yang baru yang dibuat untuk kota bagian timur, dan telah mencukur rambut dan jenggotnya, berpakaian dengan kulit yang kasar dan meminyaki tubuhnya dengan susu mentega dan minyak, mencakar punggungnya dengan tanduk rusa, dia masuk ke kuil pengorbanan bersama dengan ratu dan pendeta terhormat dari kasta brahmana. Di sana dia berbaring di atas tanah kosong yang berumput di atasnya. Raja menggunakan susu yang ada dalam puting susu sapi bersama anak sapi dari warna yang sama sedangkan ratu menggunakan susu yang berada dalam puting susu kedua, dan pendeta terhormat brahmana ini menggunakan susu yang berada dalam puting susu yang ketiga, dan susu yang berada dalam puting susu yang keempat mereka tuang ke dalam api : anak sapi menggunakan susu yang tersisa. Dia berkata demikian : "Biarkan sekian banyak sapi jantan disembelih untuk pengorbanan, biarkan sekian banyak pohon ditebang untuk tempat pengorbanan, biarkan sekian banyak rumput dipotong untuk rumput pengor­banan." Dan kemudian para budaknya dan pesuruh dan pelayannya membuat persia­pan dengan wajah yang menyedihkan dan menangis, mereka yang didorong oleh ancaman hukuman dan oleh rasa takut. Inilah yang disebut jenis manusia yang menyiksa diri sendiri, yang senang dengan penganiayaan diri, dan penyiksaan makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
  4. Ada orang  yang tidak ingin menyiksa  dirinya  sen­diri, tidak tertarik dalam penyiksaan dirinya sendiri, ia pun tidak menyiksa orang lain, tidak tertarik dalam penyik­saan orang lain;  karena ia tidak menyiksa diri sendiri maupun  orang  lain, di sini dan sekarang ia tidak kepana­san, padam, dingin, ia hidup mengalami kesenangan seperti seseorang yang menjadi brahma dalam dirinya. Di sini, seorang Tathagata muncul di dunia, yang besar menjadi Arahat dan mencapai pencerahan sempurna, sempurna dalam pengetahuan yang besar dan perbuataan, yang mengetahui semua dunia, pemimpin yang tak dapat ditandingi untuk menjinakkan manusia, guru para dewa dan manusia, yang mencapai pencerahan, yang diberkahi.


Penjelasan mengenai  keempat hal ini lebih detail terdapat dalam Kandaraka Sutta 8- 29.

Kemudian Bhante Udena juga menanyakan kepada Brahmana Goṭamukha untuk memilih salah satu diantara dua jenis manusia. Dua jenis kelompok tersebut adalah:
  1. Ada  kelompok yang ingin permata dan anting-anting, mencari pekerja wanita dan pria, mencari ladang dan tanah, mencari emas dan perak.
  2.  Ada kelompok lain yang sama sekali tidak menginginkan permata dan anting-anting, meninggalkan istri dan anak-anak, meninggalkan pekerjaanya, laki dan perempuan, meninggalkan ladang-ladangnya dan tanah­nya, meninggalkan emas dan perak, meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi tak berumah-tangga. Juga kelompok ini tidak menyiksa diri mereka, tidak tertarik  menyiksa orang lain; kelompok ini, karena mereka tidak menyiksa diri mereka dan orang lain, maka  di sini dan sekarang mereka tidak panas, padam, dingin dan telah menjadi brahma dalam dirinya, mereka hidup dengan menyenangkan.

                 Setelah khotbah itu, brahmana itu pun menjadi siswa Bhante Udena dan berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha akan memberikan dana berupa vihara yang didirikan di Pataliputta. Sekarang tempat ini bernama Ghotamukhi.

Pesan Moral


Berdiskusilah hal positif yang memberikan pengetahuan dan pencerahan bagi diri kita dan orang lain.

Referensi
 Anggawati, Lanny.2000.Panduan Tipitaka. Klaten: Wisma Sambodhi.
Anggawati, Lanny. 2006. Majjhima Nikaya 5. Klaten: Wisma Sambodhi.
  http://majjhimanikaya-rustam.blogspot.com/2010/03/ghotamukkha-sutta.html (diakses tanggal 17 November 2012)

Khandhasaṃyutta Khotbah Berkelompok Tentang Kelompok-kelompok Unsur Kehidupan

7:55 PM Add Comment
 NAKULAPITA SUTTA

Tempat: Suku Bhagga di Sumsumaragira di Hutan Bhesakala, Taman Rusa.

Latar Belakang:

Mengenai seorang perumah tangga bernama Nakulapita yang meminta nasihat kepada Sang Bhagava supaya terarah pada kesejahteraan dan kebahagan dalam waktu yang lama.

Inti:

            Kemudn Sang Bhagava menaasihati Nakulapita untuk melatih pikiran “Ketika aku sengsara tubuh, pikiranku tidak akan sengsara”. Setelah mendengar hal ini kemudn Nakulapita menemui YM Sariputta dan mengulang pernyataan ketika bertemu Sang Bhagava. Kemudn YM Sariputta menjelaskan mengenai bagaimana seseorang dapat ditubuh dan sengsara di pikiran.


·         Menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku”. Selama  hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentuk itu berubah. Dengan perubahan bentuk itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah perasaan, perasaan adalah milikku”. Selama hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, perasaan itu berubah. Dengan perubahan perasaan itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah persepsi, persepsi adalah milikku.” Selama hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, persepsi itu berubah. Dengan perubahan persepsi itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap bentukan-bentukan kehendak sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan kehendak, atau bentukanbentukan kehendak sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan kehendak. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentukan-bentukan kehendak, bentukan-bentukan kehendak adalah milikku”. Selama  hidup dikuasai oleh gagasangagasan ini, bentukan-bentukan kehendak itu berubah. Dengan perubahan bentukan-bentukan kehendak itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.  hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah kesadaran, kesadaran adalah milikku.” Selam hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, kesadaran itu berubah. Dengan perubahan kesadaran itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

YM Sariputta juga menjelaskan mengenai bagaimana seseorang sengsara dalam tubuh tetapi tidak sengsara dipikiran.

·         Tidak menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Tidak dengan hidup dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentuk itu berubah. Dengan perubahan bentuk itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah perasaan, perasaan adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, perasaan itu berubah. Dengan perubahan perasaan itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah persepsi, persepsi adalah milikku.” Selama hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, persepsi itu berubah. Dengan perubahan persepsi itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap bentukan-bentukan kehendak sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan kehendak, ataubentukan-bentukan kehendak sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan kehendak.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentukan-bentukan kehendak, bentukanbentukan kehendak adalah milikku.” Selama hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentukan-bentukan kehendak itu berubah. Dengan perubahan bentukan-bentukan kehendak itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah kesadaran, kesadaran adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, kesadaran itu berubah. Dengan perubahan kesadaran itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

Inilah pernyataan YM Sariputta kepada Nakulapita. Dengan sangat bergembira, perumah tangga Nakulapita bersukacita dengan pernyataan YM Sariputta.


Pesan Moral:

Pikiran itu lebih liar daripada binatang busa sekalipun. Maka marilah kita berlatih mengendalikan pikiran kita agar hidup kita selalu tentram. Tubuh kita boleh sakit tetapi jangan sampai pikiran kita ikut sakit.


Referensi:

-----------. 2009. Samyutta Nikaya 5. Klaten: Wisma Sambodhi.

Bhikkhu Bodhi. 2010. Terjemahan Baru Samyutta Nikaya. Jakarta: DhammaCitta Press. (PDF File).

METAFISIKA DAN ELEMEN- ELEMENNYA DALAM BUDDHIS

7:39 PM Add Comment


A.    Latar Belakang

Banyak orang menganggap metafisika berkaitan dengan hal- hal yang bersifat gaib. Atau juga ada yang menganggap metafisika sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam- alam setan ataupun yang berhubungan dengan klenik. Persepsi tersebut sebenarnya tidak dapat disalahkan, karena dalam arena perebutan makna sebuah istilah, maka sebuah istilah termasuk metafisika seiring perubahan waktu dalam konteks sosial dan sejarah jelas mengalami pergeseran makna yang digunakan oleh masyarakat, terutama masyarakat awam. Memang hal-hal supranatural juga termasuk atau tercakup dalam definisi metafisika, namun metafisika tidak dapat diartikan sepenuhnya adalah mengenai supranatural, kian lama agaknya definisi metafisika tidak menunjuk pada objek definitif yang diwakilinya. Hal yang sama seperti ketika sekarang dalam mempelajari filsafat lebih familiar diketahui adanya ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai batang tubuh atau elemen-elemen fundamental kajian filsafat, dan seakan melupakan metafisika.

B.     Pengertian Metafisika

Pada mulanya istilah metafisika digunakan di Yunani untuk merujuk pada karya-karya tertentu Aristoteles (384-322 SM). Namun sebenarnya istilah metafisika bukanlah dari Aristoteles, metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau theologia, dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika. (Loren Bagus, Matafisika, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 18)

Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya tentang metafisika antara lain:
  • Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari pronsip-prinsip fundamental  dan penyebab-penyebab pertama.
  • Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.
  • Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan, yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia.

Ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut,  sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu,
  1. yang ada sebagai yang ada being qua being dan
  2. yang Ilahi.

Namun demikian Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua obyek kajian sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang berbeda. Seorang filosof  Jerman bernama Christian Wolff cenderung meyakini bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan yang Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh karenanya, Wolff memilah filsafat pertama Aristoteles menjadi metaphysica generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut ontologi dan methapysica specialis (metafisika khusus).

Pengertian Metafisika Dalam Filsafat Menurut Para Ahli

Menurut Cristian Wolf (1679-1754), metafisika terbagi menjadi dua jenis. Pertama, metafisika generalis, yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontologi, dan kedua, metafisika spesialis yang terbagi menjadi tiga bagian besar,
  • antropologi, yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga,
  • kosmologi, yang membahas asal-usul alam semesta dan hakikat sebenarnya, dan
  • teologi, membahas mengenai Tuhan secara rasional.

Bahasan yang terdapat dalam metafisika secara umum antara lain meliputi,

(1) yang-ada (being), 
(2) kenyataan (reality),                      
(3) eksistensi (existence),      
(4) esensi (essence),   
(5) substansi (substance),      
(6) materi (matter),    
(7) bentuk (form),      
(8) perubahan (change),         
(9) sebab-akibat (causality), dan       
(10) hubungan (relation).

C.     Elemen- elemen Metafisika

a.      Secara Umum

Elemen- elemen metafisika secara umum adalah sebagai berikut:

·   Elemen Sejati, yaitu Cahaya dan Kegelapan (disebut juga Keteraturan dan Kekacauan).

·   Elemen Alam, yaitu Api, Air, Angin, dan Tanah.

·   Elemen Campuran, yang merupakan hasil penggabungan dari Elemen Sejati dan Elemen Alam; terdiri dari:

1.      Gravitasi (Api + Angin + Cahaya)

2.      Petir (Api + Angin + Kegelapan)

3.      Es (Air + Angin + Cahaya)

4.      Kabut (Air + Angin + Kegelapan)

5.      Isara (Api + Tanah + Cahaya)

6.      Meteor (Api + Tanah + Kegelapan)

7.      Kayu (Air + Tanah + Cahaya)

8.      Logam (Air + Tanah + Kegelapan)

·   Elemen Individu, yaitu elemen-elemen yang membentuk seorang individu; terdiri dari Persona/Karakter, Raga, Ruh, dan Akal/Pikiran.

b.      Secara Buddhis

Dilihat dari elemennya secara umum, maka dalam agama Buddha tepatnya dalam Abhidhamma, dijelaskan juga mengenai unsur- unsur tersebut dalam Rupa 28. Rupa adalah keadaaan yang dapat berubah dan bercerai dengan kedinginan dan kepanasan. Rupa terbagai menjadi 2 yaitu:

·   Mahabhutarupa 4: 4 unsur dasar yang besar.

1.      Pathavi Dhatu: unsur tanah atau padat.

2.      Apo Dhatu: Unsur Air atau Cair.

3.      Tejo Dhatu: Unsur Api atau Panas.

4.      Vayo Dhatu: Unsur Angin atau Gerak.

·   Upadayarupa 24: 24 macama berasal dari materi

1.      Pasadarupa 5: 5  materi yang mampu menerima obyek.

a.       Cakkhu Pasada: Landasan Mata.

b.      Sota Pasada: Landasan telinga.

c.       Ghana Pasada: Landasan hidung.

d.      Jivha Pasada: Landasan Lidah.

e.       Kaya Pasada: Landasan jasmanni.

2.      Visayarupa 4: 4 yang menjadi objek panca indera.

a.       Ruparammana: Obyek bentuk.

b.      Saddarammana: Obyek Suara.

c.       Gandharammana: Obyek bau.

d.      Rasarammana: Obyek rasa.

3.      Bhavarupa 2: 2 macam  kelamin.

a.       Itthibhava: unsur betina

b.      Purisabhava: Unsur jantan

4.      Hadayarupa 1:

a.       Hadayarupa: unsur batin sanubari

5.      Jivitarupa 1

a.       Jivitarupa: unsur kehidupan

6.      Ahararupa 1

a.       Kabalikarahara: unsur makanan

7.      Paricchedarupa 1

a.       Paricchedarupa: unsur dari ruangan

8.      Vinnatirupa 2: 2 bentuk perhubungan

a.       Kaya vinnati: unsur isyarat dengan gerakkan badan.

b.      Vaci vinnatti: unsur isyarat dengan kata- kata.

9.      Vikararupa 3: 3 macam gaya plastis.

a.       Lahuta: unsur gaya ringan.

b.      Muduta: Unsur gaya menurut.

c.       Kammannata: unsur  gaya menyesuaikan diri.

10.  Lakkhana rupa 4: 4 corak yang khas.

a.       Upacaya: unsur sempurna.

b.      Santati: Unsur bergantung terus.

c.       Jarata: unsur kelapukkan.

d.      Aniccata: Unsur tidak kekal.


D.    Kesimpulan

Elemen- elemen metafisika secara umum tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat dalam Rupa 28. Hanya saja memang pada Rupa 28 ada beberapa unsur yang kalau dipahami kurang sesuai.

Tepatnya elemen-  elemen metafisika sama dengan unsur utama yang besar (Mahabhuta rupa 4). Yang dalam elemen metafisika unsur tersebut digabungkan sehingga ada elemen yang disebut dengan elemen campuran.Mahabhuta rupa 4 lebih sesuai dengan elemen alami pada elemen umunya sedangkan elemen individu lebih cenderung ke Upadaya rupa 24.


Referensi:

ü  Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta; Trisattva Buddhist Centre.

ü  Panjika. 2005. Abhidhammatthasangaha. Tangerang; Vihara Padumuttara.

ü  http://www.vandaria.com/metafisika-elemen-pembentuk (diakses tanggal 06 Maret 2013)

ü  http://www.sarjanaku.com/2012/10/pengertian-metafisika-dalam-filsafat.html (diakses tanggal 06 Maret 2013)

·         http://parapsikolog.wordpress.com/arti-metafisika/ (diakses tanggal 06 Maret 2013)

PENTINGNYA BERPIKIR HOLISTIK PADA KEHIDUPAN MANUSIA

7:35 PM Add Comment
A.      Latar Belakang
Sebagian orang beranggapan bahwa filsafat adalah sesuatu hal yang tidak penting, bahkan sesuatu hal yang tabu untuk diperbincangkan. Pada dasarnya filsafat bukanlah hal yang buruk, karena filsafat itu sebenarnya adalah berfikir secara mendasar (Radikal), menyeluruh (holistik), dan spekulasi (spekulatif). 
Perkembangan globalisasi dewasa ini menuntut seseorang, pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan untuk dapat mengkaji permasalahan-permasalahan secara luas atau dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kenyataan yang sering ditemui adalah pikiran manusia hanya terfokus atau terspesialisasi pada bidang-bidang kehidupan atau keilmuwan tertentu. Pemikiran yang cenderung  terkotak-kotak, parsial, atau fragmented adalah wajar. Namun perlu disadari, manusia hidup pada suatu sistem besar yang saling terkoneksi satu dengan lainnya. Apabila, manusia tetap mengkhususkan diri dengan pemikirannya yang sempit, maka tidak tertutup kemungkinan dia akan menjadi seseorang yang fanatik, tidak berkembang. Sebuah fenomena yang terjadi di dunia harus disikapi dari kaca mata yang  berbeda karena adanya suatu jalinan yang saling kait-mengkait. Dengan demikian ciri berpikir dari filsafat yaitu berpikir secara holistik dibutuhkan untuk mananggapi dan memecahkan suatu masalah demi mewujudkan suatu sistem kehidupan manusia yang seimbang secara batiniah dan rohani.

B.       Definisi Berpikir.          
Berpikir adalah proses yang intens untuk memecahkan masalah, dengan menghubungan satu hal dengan yang lain, sehingga mendapatkan pemecahan. Hal-hal yang akan dihubungkan tersebut belum tentu ada atau hadir di benak kita. Oleh karena itu berpikir melibatkan kemampuan untuk membayangkan atau menyajikan objek-objek yang tidak ada secara fisik atau kejadian-kejadian yang tidak sedang berlangsung.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk berpikir (homo thinking), makhluk yang mampu membangun atau mengembangkan potensi rasa dan karsa (emotional quetion); dan makhluk yang mampu membangun kualitas kedekatan pata Tuhan (spiritual quetion) (Muthahhari, M.. 1997; Tafsir, A. 2007). Dengan kata lain, manusia adalah makhluk ‘multi dimensional’, dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan itulah yang menjadi senjata pamungkas bagi manusia dalam mengusai atau memberdayakan alam seisinya. Kemampuan multidimensi tersebut, menyebabkan manusia mampu mengembangkan beragam ilmu pengetahuan atau kebudayaan yang kompleks menuju keunggulan hidup (civilization).
Diantara bagian terpenting dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan adalah ‘kemampuan manusia untuk menalar’. Dari kemampuan menalar itulah manusia dapat: (a) mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal; (b) memilih dan membedakan sesuatu itu benar atau salah, sesuatu itu baik atau tidak baik; (c) memilih beragam alternatif pilihan jalan hidup yang benar atau tidak benar, bermanfaat atau tidak bermanfaat; dan (d) terus melakukan inovasi diberbagai bidang kehidupan dengan pola perubahan yang bersifat progress of change (Ankersmit. 1987; Sztompka, P. 1993).

C.       Konsep Berpikir Holistik         
Pikiran manusia cenderung bersifat analitis, memilah-milah, separa¬tis, friktif, parsial. Sebaliknya, pikiran tidak mampu mencerap objek secara tuntas. Hal ini disebabkan :

a.    Hakikat sesuatu objek pikiran selalu bersifat tersembunyi, atau setidaknya tidak akan pernah tuntas dicerap secara menyeluruh oleh pikiran. Ya, selalu saja ada bagian yang tidak kita mengerti. Makin banyak yang diketahui, maka jauh lebih banyak lagi yang belum diketahu. Kalau kita mengenal istilah metodologi, maka sebenarnya hanya berarti “cara logis untuk mendekati objek”, dan bukan cara mencerap objek secara tuntas.

b.    Dalam konteks praktis, biasanya kita lalu membagi tugas kepada beberapa orang dari berbagai disiplin ilmu misalnya. Model “membagi tugas” seperti ini mengandung kelemahan atau bahaya, kalau kita tidak memahami karakter pemikiran di balik pembagian tugas itu

c.    Oleh karena pikiran tidak akan pernah mampu mencerap hakikat objek secara tuntas, maka berarti pikiran tidak akan pernah mampu berbicara perihal kebenaran. Pikiran hanya mampu berbicara perihal kebetulan. Mengambil hikmah dari gambar di atas, maka “kebetulan + kebetulan = kebenaran” bukan? artinya, kita tidak bisa menemukan kebenaran dengan mengumpulkan kebetulan-kebetulan. Dengan kata lain, pikiran tidak mampu melakukan valuasi (penilaian salah-benar), pikiran hanya mampu melakukan evaluasi (menyatakan fakta-fakta parsial).
Contoh :
Suatu penelitian menghendaki Anda mengukur/mengamati karakter daun tanaman rambutan. Perhatikan kata daun, tanaman dan rambutan. Dan perhatikan pula, bagaimana suasana psikis Anda saat mengamatinya. Meskipun perhatian Anda tertuju hanya kepada daun, tetapi pasti Anda sadar sesadar-sadarnya bahwa daun itu hanyalah sebagian dari bagian-organis tanaman, dan tanaman itu adalah rambutan. Oleh karena daun itu hanya sebagian organ, maka pasti ia bersangkut-paut dengan bagian-bagian lain (akar, batang, dst.). Tetapi kita bisa membedakan bahwa daun bukanlah akar, dan akar bukanlah batang. Begitulah seterusnya kesadaran Anda dari saat ke saat selama melakukan pengamatan Oleh karena itu, praktik-praktik dalam ilmu ragawi biasanya bisa lebih dijamin kebenarannya daripada ilmu non-ragawi. Sehingga, bagian-bagian yang diamati secara terpisah pun, setelah disatukan akan membangun suatu sistem konsistensi logika yang utuh. Pada contoh di atas, rangkaiannya membentuk bangun tanaman rambutan. Suatu bangun yang membentuk sistem konsistensi logika yang utuh, itulah fakta namanya.
Berdasarkan uraian di atas, maka berlaku prinsip umum :
a. Keseluruhan tidak sama dengan jumlah bagian-bagiannya, atau
b. Keseluruhan sama dengan keseluruhan itu sendiri
Berdasarkan uraian di atas maka didalam memahami suatu objek, diperlukan pemahaman secara utuh dan menyeluruh terhadap objek tersebut atau disebut juga berpikir secara holistik. Ciri berpikir filsafat ini berlaku umum terhadap berbagai fenomena kehidupan manusia di dunia untuk mewujudkan keseimbangan hidup manusia. Dengan demikian konsep berpikir holistik dapat diuraikan sebagai berikut :

                         i.          Berpikir secara utuh, tidak terlepas-lepas dalam kapsul egoisme (kebenaran) sekoral yang sempit. Cara berpikir filsafat seperti ini perlu dikembangkan mengingat hakikat pemikiran itu sendiri adalah dalam rangka manusia dan kemanusiaan yang luas dan kaya (beraneka ragam) dengan tuntutan atau klaim kebenarannya masing-masing, yang menggambarkan sebuah eksistensi yang utuh. Baginya, pikiran adalah bagian dari fenomena manusia sebab hanya manusia lah yang dapat berpikir, dan dengan demikian ia dapat diminta pertanggungjawaban terhadap pikiran maupun perbuatan-perbuatan yang diakibatkan oleh pikiran itu sendiri. Pikiran merupakan kesatuan yang utuh dengan aneka kenyataan kemanusiaan (alam fisik dan roh) yang kompleks serta beranekaragam. Pikiran, sesungguhnya tidak dapat berpikir dari dalam pikiran itu sendiri, sebab bukan pikiran itulah yang berpikir, tetapi justru manusia lah yang berpikir dengan pikirannya. Jadi, tanpa manusia maka pikiran tidak memiliki arti apa pun. Manusia, karenanya, bukan hanya berpikir dengan akal atau rasio yang sempit, tetapi juga dengan ketajaman batin, moral, dan keyakinan sebagai kesatuan yang utuh.

                       ii.          Suatu pola pikir  dengan cara melihat keseluruhan sistem seakan-akan kita berada diatas helicopter dan melihat semua komponen sistem itu berinteraksi satu dan lainnya dibawah. Artinya kita selalu berpikir lebih luas dan memahami bahwa suatu bagian itu berkoneksi dengan bagian lainnya. Sehingga ketika ada gejala ketidak beresan, yang diperlukan adalah melihat dan bertanya sampai kita menemukan akarnya. Inilah yang penting dimiliki oleh individu yang ingin lebih maju.

                     iii.          Model berpikir yang menggunakan model divergen dan konvergen secara bertahap. Kemampuan menggunakan kedua model berpikir tersebut, ditambah kemampuan “melihat” hubungan antara ide-ide atau informasi-informasi yang sebelumnya tidak terhubung merupakan dasar bagi berpikir cerdas.

Secara singkat, holistic thinking adalah aktivitas berpikir yang merupakan gabungan antara dimensi-dimensi spiritual (moral, etika, tujuan hidup), psikososial (motivasi, empati), rasional (tingkat pertama dan tingkat kedua, lihat penjelasan di bawah), dan fisikal (eksekusi, implementasi, menerima umpan balik). Kecerdasan pada dimensi-dimensi tersebut dilabeli dengan istilah SQ (spiritual), EQ (emosional), IQ (rasional), dan PQ (fisikal). Contoh sederhana adalah ketika sesorang membuat masalah dengan kita, orang yang pikirannya sempit akan langsung menghajar dan memukulinya. Tetapi untuk orang yang cerdas akan mencari penyebab masalahnya dan menyelesaikannya dengan baik.

D.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemikiran secara Holistik      
Perkembangan globalisasi menuntut pengembangan pola pikir secara holistik. Beberapa faktor yang mempengaruhinya dapat diuraikan sebagai berikut :

a.    Kehidupan manusia terdiri dari beragam bidang kehidupan. Bidang-bidang kajian tersebut antara lain agama, hukum, bahasa, seni, matematika, sains, sosiologi, komunikasi, pendidikan dan sebagainya. Semua bidang tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

b.    Otak manusia sejak dilahirkan telah disiapkan untuk memahami berbagai macam bidang ilmu. Secara potensial hal itu sudah disediakan, tetapi secara realitas kerap kali yang berkembang hanya bagian-bagian tertentu saja dari otak manusia. Karena tidak dilatih secara maksimal.

c.    Jika dicermati, kehidupan manusia baik secara individu, sosial (komunitas), kehidupan hewan dan tumbuhan di alam, serta sistem mikroskopis dan makrokosmos yang ada di alam mini, akan didapati bahwa tidak ada satu pun makhluk yang independen secara mutlak. Semua makhluk itu terikat dalam sistem yang saling terhubung. Artinya, hakikat kehidupan kita ini bersifat komplek, tidak tunggal, tidak mandiri secara mutlak. Dengan demikian, memahami kehidupan ini juga membutuhkan perangkat-perangkat ilmu pengetahuan yang komplek pula.

d.   Dalam manajemen modern, banyak pihak telah lama menerapkan sistem pendekatan integral. Misalnya dalam industri perangkat keras komputer. Disana sebuah pabrik komputer tidak hanya merekrut ahli-ahli teknik komputer saja, tetapi mereka juga membutuhkan ahli desain, ahli bahasa, ahli marketing, peneliti sosial, sampai ahli psikologi. Dengan pendekatan yang bersifat menyeluruh (integral), diharapkan keputusan-keputusan manajemen yang diambil lebih dekat kepada realitas konsumen yang dihadapi.

e.    Ilmu pengetahuan telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan multi disipliner yang menguasai ilmu agama, filsafat, matematika, sains, seni, sejarah, geografi dan lain-lain.

f.     Pemahaman bidang-bidang ilmiah secara holistik akan membawa kepada kebijaksanaan dan keputusan yang matang. Justru sikap fanatik kepada spesialisasi dan menolak keragaman perspektif, hal itu akan membawa kepada kesempitan pandangan dan kesimpulan yang mentah.

g.    Pada dasarnya, tidak ada satu pun bidang ilmu yang bersifat spesialis murni. Seorang ahli tidak akan menemukan sebuah teori baru tanpa alat bantu ilmu lain seperti ilmu fisika, informasi perpustakaan, dll.

h.    Dengan berpikir secara holistik, seseorang mampu beradaptasi dengan berbagai macam manusia, lingkungan dan kasus. Menghadapi orang desa berbeda dengan menghadapi orang kota, menghadapi orang Jawa berbeda dengan menghadapi orang Batak.

E.       Kesimpulan

Berpikir holistik dalam kehidupan manusia sangat penting. Apalagi kita sebagai makhluk sosial di zaman globalisasi ini, yang terus dihadapakan dengan suasana, lingkungan dan manusia yang berbeda. Berpikir holistik akan membuat orang lebih mudah beradaptasi dengan suasana, lingkungan, dan manusia yang baru serta berbeda.

Dengan berpikir holistik kita tidak akan terjebak dalam pemikiran- pemikiran yang bodoh. Kita bisa menghadapi segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atau orang lain dengan pikiran positif.  Dan juga mampu menyelesaikan masalah dengan baik yang dimulai dengan mencari penyebabnya.

Bagi pelajar atau juga mahasiswa berpikir holistik sangat penting,  Akan sangat memudahkan kita sebagai mahasiswa dalam menghadapi masalah, tugas- tugas dan juga pekerjaan- pekerjaan diluar aktifitas belajar.

Yang lebih penting adalah berpikir holistik akan membuat kita lebih bijaksana. Meninggalkan segala macam hal yang buruk dan melaksanakan hal- hal yang baik. Sebagai makhluk sosial juga harus pandai memilih sahabat yang baik. Sebagai makhluk konsumen juga harus bijaksana, yang lebih dibutuhkan harus didahulukan. Sebagai politikus juga harus mementingkan rakyat daripada golongan dan individunya sendiri.

Referensi:

http://bongsochicha.blogspot.com/2012/08/berpikir-holistik.html (diakses tanggal 25 Maret 2013)

AGAMA BUDDHA DAN POLITIK

4:02 PM Add Comment
A.    Latar Belakang

Politik adalah suatu hal yang tabu yang dialami umat Buddha karena tidak semua umat Buddha mengetahui apa itu politik dan seluk beluknya. Kebanyakan dari mereka berbicara politik ketika terjadi kasus yang kaitannya dengan pejabat-pejabat politik dan pembiacaraan politik ini merupakan pembicaraan paling asyik ketika sedang berkumpul. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia, kita tidak bisa terlepas dalam politik. Semua apapun yang dilakukan ada yang berbau politik. Bahkan anak-anak pun sebenarnya tanpa disadari sudah terlibat sudah terlibat pada politik. Misalnya ketika sedang bermain atau disekolah ada yang dipilih menjadi ketua kelas.

Tahun 2014 merupakan tahun politik bagi masyarakat Indonesia karena di tahun inilah pesta demokrasi atau pemilu dilaksanakan. Banyak masyarakat menginginkan perubahan yang positif ditahun ini setelah terpilihnya pemimpin baru. Namun kenyataannya berbeda dengan yang mereka harapkan karena banyak orang yang menginginkan untuk ikut menyalurkan aspirasi masyarakat dengan cara menjadi caleg (calon Legislatif) hanya untuk merubah nasib. Nasib disini bukan nasib masyarakatnya akan tetapi nasibnya sendiri sehingga sekarang banyak dari kalanagn masyarakat biasa sampai para tokoh, artis, olah ragawan ikut nyaleg.

Menjadi anggota DPR sekarang memang mudah karena semakin banyaknya partai- partai yang mengikuti pemilu. Dari partai yang nasionalis seperti PDI-P, Partai Demokrat sampai yang agamis seperti PPP, PKS, dan PKB. Akan tetapi jika dilihat dari latar belakangnya apakah mereka yang menjadi caleg mampu untuk mengemban amanat rakyat?. Mungkin untuk partai nasionalis memang masih bisa diperhitungkan akan tetapi bagaimana dengan partai yang berbasis agama?

Usaha untuk mencampuradukkan agama dengan politik pun sering terjadi. Padahal, kalau dilihat agama berdasarkan pada moralitas, kemurnian, dan keyakinan, sedangkan dasar politik adalah kekuatan. Dilihat dari sejarah masa lalu, agama telah sering digunakan untuk memberi hak bagi orang-orang yang berkuasa. Agama digunakan untuk membenarkan perang dan penaklukan, penganiayaan, kekejaman, pemberontakan, penghancuran karya~karya seni dan kebudayaan. Ketika agama.digunakan sebagai perantara tindakan-tindakan politik, agama tidak lagi dapat memberikan keteladanan moral yang tinggi dan derajatnya direndahkan oleh kebutuhan-kebutuhan politik duniawi.

                                                                        (Dhammananda (2002;333)

B.     Pengertian Politik

Politik /po·li·tik/ n 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan). (KBBI)

Semantara itu politik menurut Wikipedia dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara, adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Jadi, Politik adalah pengetahun mengenai ketatanegaraan atau kepemerintahan atau yang berkaitan dengan warga Negara.

Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

·         politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)

·         politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara

·         politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat

·         politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
C.    Perilaku politik

Perilaku politik atau (Inggris:Politic Behaviour)adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik adapun yang dimaksud dengan perilaku politik contohnya adalah:

·         Melakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat / pemimpin

·         Mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang mengikuti suatu partai politik atau parpol , mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau lsm lembaga swadaya masyarakat

·         Ikut serta dalam pesta politik

·         Ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik yang berotoritas

·         Berhak untuk menjadi pimpinan politik

·         Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku

Perilaku-perilaku itu biasanya sudah diatur dalam undang-undang. Akan tetapi karena sifatnya tidak mengikat maka yang melanggar pun tidak akan dihukum. Misalnya dalam pemilu ada yang golput (tidak memilih) maka tidak ada sanksi yang berarti. Memang sebagai warga Negara tidak ada sanksi khusus terutama mengenai pelanggaran itu, akan tetapi sebagai warga Negara yang baik tentunya mempunyai hak untuk menentukan masa depan bangsa sehingga tidak ada salahnya jika mengikuti pesta demokrasi itu.

D.    Para Bhikkhu Yang Terlibat Politik

Sang Buddha merupakan biarawan pertama yang melepasakan keduniawiannya. Bahkan beliau tidak mau ketika diminta ayahnya untuk kembali ke kerajaan dengan dijanjikan diberikan separuh luas kerajaan tetapi beliau tetap tidak mau. Sang Buddha tetap teguh pada pendirian untuk mencapai tujuannya dalam menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu.

Dalam kehidupannya sebagai Buddha beliau tidak terlibat dalam politik. Akan tetapi, beliau sering menjadi penengah masalah yang berbau politik antara dua penguasa kerajaan yang bertikai. Beliau membantu menyelesaikan masalah yang ada dan menjadi pembimbing spiritual bagi para raja yang terlibat politik. Beliau tidak terlibat dalam penyelesaian dan pergulatan politik.

Misalnya, saat suku Koliya dan Sakya hendak berperang demi penggunaan air sungai, Sang Buddha membujuk mereka agar tidak melakukannya. Saat raja Ajattasattu mencoba menaklukkan suku Vajji, Sang Buddha menyampaikan pesan dengan cara melakukan percakapan dengan Ananda di depan menteri raja Ajattasattu, bahwa suku Vajji tidak dapat ditaklukkan. Dengan demikian Sang Buddha meyakinkan Raja untuk membatalkan rencananya. Dalam dua kesempatan, Sang Buddha menghentikan majunya bala tentara raja Vadidabu yang hendak menghancurkan suku Sakya dengan bermeditasi di bawah pohon kering.

Keterangan singkat di atas menunjukkan dua poin penting:

1)      Para biarawan dapat mendidik para raja dan menteri (para politisi) dengan mengajarkan Dhamma kepada mereka, menjadi penengah dalam berbagai permasalahan politik dan melindungi hak-hak para warganegara pada saat diperlukan.

2)      Para biarawan tidak terlibat sebagai pribadi dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Mereka juga tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik. Dengan kata lain, para biarawan boleh terlibat dalam politik tetapi harus dibatasi. Mereka tidak boleh menjadi politisi. (Ang Choo Hong: 2004)

            Sekarang kita terkadang mendengar bhikkhu sering mengikuti politik dan hal ini mereka dikuatkan dalam kitab suci. Bhkkhu harus tetap focus menjalani kehidupan sucinya karena politik identic dengan profesi. Misalnya di Indonesia politik identic dengan menjadi anggota DPR, DPRD, DPD atau bahkan menjadi presiden. Jika bhikkhu terlibat dalam pergulatan politik maka tentunya kualitas diri dan batinnya akan terganggu.

            Dalam artikelnya, Ang Choo Hong menyatakan bahwa ada alasan-alasan mengapa ada bhikkhu atau biarawan yang terlibat dalam politik, yaitu:

1)      Hal itu disebabkan oleh sejarah politik sosial seperti dalam kasus para Dalai Lama di Tibet.

2)      Mereka yang tidak mempunyai pilihan lain karena lingkungan politik tempat mereka berada. Misalnya, apabila mereka dipilih oleh pihak-pihak yang berwenang untuk menjabat sebagai menteri, wakil rakyat, anggota badan legislatif, dll.

3)      Mereka yang dengan tulus hendak mengabdi pada kepentingan Buddhisme tetapi mereka tidak mempunyai pengertian yang mendalam tentang Ajaran Sang Buddha dan pengertian tentang politik. Maka hal ini membingungkan peran mereka sendiri.

4)      Mereka yang mengenakan jubah kuning tetapi mempunyai karakter yang egois. Mereka menginginkan perhatian dari orang lain.

Agama Buddha tidak membenarkan bhikkhu atau biarawan terlibat dalam pergulatan politik. Jika semua bhikkhu terlibat dalam politik yang penuh dengan keegoisan dan kekuasaan, maka agama Buddha bisa hancur karena tidak ada lagi yang mampu menjaga Dhamma Vinaya dengan benar.

E.     Politik Menurut Agama Buddha

Politik dan kekuasaan di dalam Buddhist dipahami seperti sebuah kereta yang  tergantung kepada kedua rodanya, yakni roda kekuasaan (anacakka) dan roda kebenaran (dhammacakka). Bila roda kekuasaan tidak dikendalikan oleh penguasa dengan baik, maka akan menjadi kekuasaan yang korup, dan dalam kondisi ini Sangha atau komunitas spiritual, harus mengimbanginya dengan roda kebenaran.

Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesian Corruption Watch, Abdullah Dahlan, Rabu, 2 April 2014, mengatakan korupsi politik di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama dua periode justu lebih dominan. (Vivanews.co.id)

Pendekatan agama Buddha terhadap politik adalah moralisasi dan tanggung jawab penggunaan kekuatan masyarakat. Sang Buddha mengkotbahkan Tanpa Kekerasan dan Kedamaian sebagai pesan universal. Beliau tidak menyetujui kekerasan atau penghancuran kehidupan dan mengumumkan bahwa tidak ada satu hal yang dapat disebut sebagai suatu perang 'adil'.

Sang Buddha mendiskusikan penting dan perlunya suatu pemerintahan yang baik. Beliau memperlihatkan bagaimana suatu negara dapat menjadi korup, merosot nilainya dan tidak bahagia ketika kepala pemerintahan menjadi korup dan tidak adil. Beliau berbicaramenentang korupsi dan bagaimana suatu pemerintahan harus bertindak berdasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. Suatu kali Sang.Buddha berkata, "Ketika penguasa suatu negara adil dan baik para menteri menjadi adil dan baik; ketika para menteri adil dan baik, para pejabat tinggi adil dan baik; ketika para pejabat tinggi adil dan baik, rakyat jelata menjadi baik; ketika rakyat jelata menjadi baik, orang-orang menjadi adil dan baik". (Anguttara Nikaya).

Di dalam Cakkavatti Sihananda Sutta, Sang Buddha berkata bahwa kemerosotan moral dan kejahatan seperti pencurian, pemalsuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat timbul dari kemiskinan. Para raja dan aparat pemerintah mungkin menekan kejahatan melalui hukuman, tetapi menghapus kejahatan malalui kekuatan, takkan berhasil.

Dalam Jataka, Sang Buddha telah memberikan10 aturan untuk pemerintahan yang baik, yang dikenal sebagai "Dasa Raja Dhamma". Kesepuiuh aturan ini dapat diterapkan bahkan pada masa kini oleh pemerintahan manapun yang berharap dapat mengatur negaranya. Peraturan-peraturan tersebut sebagai berikut :

1)      Bersikap bebas/tidak picik dan menghindari sikap mementingkan diri sendiri.

2)      Memelihara suatu sifat moral tinggi.

3)      Siap mengorbankan kesenangan sendiri bagi kesejahteraan rakyat.

4)      Bersikap jujur dan menjaga ketulusan hati.

5)      Bersikap.baik hati dan lembut.

6)      Hidup sederhana sebagai teladan rakyat.

7)      Bebas dari segala bentuk kebencian.

8)      Melatih tanpa kekerasan.

9)      Mempraktekkan kesabaran, dan

10)  Menghargai pendapat masyarakat untuk meningkatkan kedamaian dan harmoni.

Mengenai perilaku para penguasa, Beliau lebih lanjut menasehatkan:

o   Seorang penguasa yang baik harus bersikap tidak memihak dan tidak berat sebelah terhadap rakyatnya.

o   Seorang penguasa yang baik harus bebas.dari segala bentuk kebencian terhadap rakyatnya.

o   Seorang penguasa yang baik harus tidak memperlihatkan ketakutan apa pin dalam penyelenggaraan hukum jika itu dapat dibenarkan.

o   Seorang penguasa yang baik harus memiliki pengertian yang jernih akan hukum yang diselenggarakan. Hukum harus diselenggarakan tidak hanya karena penguasa mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan hukum. Dan.dikerjakan dalam suatu sikap yang masuk akal dan dengan pikiran sehat, (Cakkavati Sihananda Sutta)

Dalam Milinda Panha dinyatakan: Jika seseorang yang tidak cocok, tidak mampu tidak bermoral, tidak layak, tidak berkemampuan, tidak berharga atas kedudukan sebagai raja, telah mendudukkan dirinya sendiri sebagai seorang raja atau seorang penguasa dengan wewenang besar, dia akan menjadi sasaran penyiksaan. Menjadi sasaran berbagai macam hukuman oleh rakyat. Karena dengan keberadaannya yang tidak cocok dan tidak berharga, dia telah menempatkan dirinya secara tidak tepat dalam kedudukannya. Sang penguasa seperti halnya orang lain yang kejam dan melanggar moral etika dan aturan dasar dari semua hukum-hukum sosial umat manusia, adalah sebanding sebagai sasaran hukuman dan lebih lagi, yang pantas menjadi kecaman adalah penguasa yang berbuat sendiri sebagai seorang perampok masyarakat. Dalam suatu cerita Jataka, disebutkan bahwa seorang penguasa yang menghukum orang yang tidak bersatah dan tidak menghukum orang telah melakukan kejahatan, tidak cocok untuk mengatur suatu negara.

Raja yang selalu memperbaiki dirinya sendiri dan secara hati-hati memeriksa tingkah lakunya baik perbuatan, ucapan dan pikiran, mencoba untuk rnenemukan dan mendengar pendapat publik apakah dia telah bersalah atau tidak atas kesalahan atau kekeliruan dalam mengatur kerajaannya. Jika ditemukan bahwa dia telah mengatur secara tidak benar, masyarakat akan mengeluh bahwa mereka telah dihancurkan oleh penguasa yang jahat dengan perlakuan yang tidak adil, hukuman, pajak, atau tekanan-tekanan lain termasuk korupsi dalam segala bentuk, dan mereka akan bereaksi menentangnya dalam satu atau lain cara. Sebaliknya, jika seorang penguasa mengatur dengan cara yang benar mereka akan memberkahinya dengan "Panjang umur Yang Mulia" (Majjhima Nikaya)

Penekanan Sang Buddha pada tugas moral dari seorang penguasa untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat telah mengilhami Raja Asoka pada abad ketiga Sebelum Masehi untuk berbuat demikian. Raja Asokaa, contoh seorang raja berhasil dengan prinsip ini, berketetapan untuk hidup menurut Dhamma dan mengkhotbahkan Dhamma serta melayani rakyatnya dan semua umat manusia. Dia mengajarkan tanpa kekerasan kepada tetangga-tetangganya, meyakinkan mereka dan mengirim utusan
kepada para raja membawa pesan perdamaian dan tanpa agresi. Dengan penuh semangat mempraktekkan kebajikan moral, .kejujuran, ketulusan, welas asih, kebaikan hati, tanpa kekerasan, penuh perhatian dan toleransi terhadap semua manusia, tidak tinggi hati, tidak tamak, dan melukai binatang. Beliau mendorong kebebasan beragama dan secara berkala.membabarkan Dhamma kepada orang-orang di pedalaman. Beliau menangani pekerjaan kebutuhan masyarakat, seperti: mendirikan rumah sakit-rumah sakit untuk manusia dan binatang, memasok obat-obatan, menanam hutan-hutan kecil dan pohon-pohon di tepi jalan, menggali sumur-sumur, dan membangun tanggul-tanggul air dan rumah-rumah peristirahatan. Beliau juga melarang bertindak kejam terhadap binatang-binatang.

F.     Kesimpulan

 Tujuan Buddha Dhamma tidak diarahkan pada penciptaan lembaga-lembaga politik baru dan menyusun rencana-rencana politik. Pada dasarnya, agama mencari pendekatan masalah-masalah kemasyarakatan dengan memperbaiki individu-individu dalam masyarakat tersebut dan menganjurkan beberapa prinsip umum untuk dituntun ke arah nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Betapapun, ini tidak berarti bahwa agama Buddha tidak dapat atau harus tidak terlibat dalam proses politik, yang merupakan suatu realitas sosial. Bagaimanapun kehidupan anggota masyarakat dibentuk oleh hukum-hukum dan peraturan-peraturan, aturan-aturan ekonomi, lembaga-lembaga, yang dipengaruhi oleh penataan politik dari masyarakat tersebut. Namun, jika seorang umat Buddha berharap untuk terlibat dalam politik, dia harus tidak menyalahgunakan agama untuk memperoleh kekuatan politik. Juga tidak dianjurkan bagi mereka yang telah melepaskan kehidupan duniawi untuk menjalani suatu kehidupan agama yang murni untuk secara aktif terlibat dalam politik. Biarawan atau bhikkhu hanya bisa membantu menyelesaikan permasalahan- permasalahan politik dengan cara menanamkan nilai-nilai Buddhisme.

Sebagai warga Negara, kita juga berhak membangun bangsa ini. Sekalipun berbeda- beda suku atau agama, semuanya berhak untuk membangun Negara ini. Karena sekarang Negara kita ini membutuhkan tenaga yang kompeten dan mempunyai loyalitas tinggi untuk membangun dan menyejahterakan masyarakat. Hidup kita  memang tidak bisa terlepas dari politik yang penuh kebohongan dan permainan akal pikiran. Akan tetapi, paling tidak jika kita mampu mempraktikkan ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh maka hal ini akan mengimbangi apa yang pernah kita lakukan.

Mungkin kita dapat belajar sesuatu dari kecerdikan Gereja Katolik di Philipina. Gereja di sana tidak terlibat dalam partai politik apapun. Tetapi mereka aktif menyuarakan penderitaan rakyat dan mengangkat berbagai persoalan yang terkait. Dengan melakukan tindakan seperti itu, Gereja menjadi suatu grup yang sangat berpengaruh. Partai-partai politik pemerintah dan oposisi semuanya harus memperhatikan tekanan yang digunakan oleh Gereja. Umat-umat awam mungkin dapat terpecah dalam penafsiran mereka atas pesan Gereja, selanjutnya bergabung dan mendukung partai-partai yang berbeda, tetapi mereka semua akan setuju dengan Gereja. Sementara itu Gereja tidak terpecah belah.



Referensi

o   http://kbbi.web.id/politik (Diakses tanggal 22 April 2014)

o   http://id.wikipedia.org/wiki/Politik (Diakses tanggal 22 April 2014)

o   http://politik.news.viva.co.id/news/read/493627-icw---korupsi-politik-di-era-sby-lebih-dominan (Diakses tanggal 22 April 2014)

o   Dhammananda, Sri. 2002. Keyakinan Umat Buddha. ------: Yayasan Penerbit Karaniya.

o   Hong, Ang Choo. 2004. Saat Para Biarawan Terjun Dalam Politik. Malaysia:---http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/bhikkhu-dan-kegiatan-politik/ ( diakses tanggal 06 Mei 2014)

ARCA DAN MUDRA

3:58 PM Add Comment
Arca di Candi Borobudur
A.    Latar Belakang

Candi Borobudur merupakan salah satu candi agama Buddha yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Candi Borobudur adalah candi yang sangat kompleks karena dibangun oleh nenek moyang pada jaman dahulu. Bangunannya juga sangat kuat, mempunyai tingkatan-tingkatan seperti Kama Dhatu, Rupa Dhatu, dan Arupa Dhatu. Selain itu dengan struktur bagian yang lengkap yang terdiri dari bagian-bagiannya. Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief-relief cerita dan ukiran-ukiran hias, tetapi juga dapat dibanggakan karena arca-arca yang sangat tinggi mutu seninya dan sangat banyak pula jumlahnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang arca dan mudra yang ada di Candi Borobudur.

B.     Pembahasan

1.    Arca Candi Borobudur

Arca adalah patung yang terutama dibuat dari batu yang dipahat menyerupai bentuk orang atau binatang (KBBI, 2000: 64). Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa. Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Karakteristik arca Buddha:

1.      Pada ujung kepala, rambut Sang Buddha keriting dan selalu searah jarum jam dan disanggul ushnisa).

    Pada dahinya terdapat tonjolan kecil yang disebut (urna).
    Pada leher Sang Buddha jika diperhatikan terdapat garis-garis sebanyak tiga buah melambangkan kesabaran dan juga sebagai manusia sempurna.
    Arca Buddha memiliki telinga yang panjang sebagai gambaran kalau Buddha itu Maha Mendengar.
    Mata Buddha digambarkan setengah terpejam karena melambangkan orang yang melakukan yoga yang bertujuan untuk membantu konsentrasi. Setelah memejamkan mata kemudian perhatian diarahkan ke ujung hidung untuk bisa membantu konsentrasi.

Bagian tubuh, seluruh patung Buddha tidak ada yang memakai baju kebesaran, hanya memakai jubah. Jubah itu hanya menutup sebagian dadanya. Tidak ada yang penuh menutupi seluruh tubuhnya. Dada bagian kanan dibiarkan terbuka, sedangkan bagian kiri tertutup. Baju hanya berupa kain biasa menandakan sikap Buddha yang telah meninggalkan hal-hal duniawi.

2.    Mudra

Mudra adalah sikap jari-jari tangan dalam bersamadhi (KBBI, 2000: 758). Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Berikut adalah Dyani Buddha Arca Buddha menurut Mudra:

a.       UTARA: Dhyani Buddha Amoghasidhi dengan Abhaya-Mudra (a= meniadakan, bhaya= bahaya). Arca Buddha dengan mudra/ sikap telapak tangan menghadap ke depan, maksudnya adalah meniadakan bahaya/ menolak bahaya (ketidakgentaran). Lokasi mudra di relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi utara.

    SELATAN: Dhyani Buddha Ratnasambhawa. Arca Buddha bersikap tangan Wara-Mudra. Wara-Mudra melambangkan pemberian amal (kedermawanan), memberi anugerah atau berkah. Lokasi mudra relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi selatan.
    BARAT: Dhyani Buddha Amitabha. Arca Buddha dengan sikap Dhyana-Mudra sikap tangan melambangkan sedang bermeditasi atau mengheningkan cipta. Lokasi mudra di relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi barat.
    TIMUR: Dhyani Buddha Aksobhiya. Arca Buddha melambangkan Bhumispara-Mudra, sikap tangan yang menggambarkan saat Sang Buddha memanggil dewi bumi, sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis (mara). Lokasi mudra di relung pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi timur.
    ZENITH/ PUSAT: Dhyani Buddha Wairocana. Arca Buddha dengan sikap Dharma Cakra-Mudra melambangkan gerak memutar roda dharma, yaitu menggambarkan waktu  Sang Buddha pertama kali khotbah. Di Candi Borobudur, Mudra ini digambarkan dengan sikap tangan yang disebut Witarka-Mudra. Lokasi mudra di relung di pagar langkan baris kelima (teratas) Rupadhatu semua sisi.

C.     Kesimpulan

Arca adalah patung yang terutama dibuat dari batu yang dipahat menyerupai bentuk orang atau binatang (KBBI, 2000: 64). Arca-arca yang ada menggambarkan Dhayani Buddha. Jumlah arca Buddha seluruhnya di Candi Borobudur mula-mula 504 buah, tetapi kini lebih dari 300 buah telah cacat (kebanyakan tanpa kepala) sedangkan 43 telah hilang.

Mudra adalah sikap jari-jari tangan  dalam bersamadhi. Jumlah mudra ada 6 yaitu: Dhayanamudra, Dharmacakramudra, Abhayamudra, Bhumisparcamudra, Vitarkamudra, Varamudra. Dalam mudra hal yang paling menonjol perbedaannya  adalah sikap tangannya.


Referensi

§      Widya, Dharma. 1993. Sejarah Perkembangan Agama Buddha II. Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha.

§      http://ariesaksono.wordpress.com/2008/01/15/arca-budha-candi-borobudur/ (diakses, hari senin tanggal 12 November 2012)

§      http://www.perkuliahan.com/makalah-tentang-candi-borobudur/ (diakses, hari senin tanggal 12 November 2012)

BRAHMA VIHARA

3:53 PM Add Comment
Pengertian

Brahmavihara / kediaman luhur adalah keadaan batin yang sempurna, luhur atau mulia atau keadaan batin para brahma atau dewa. Empat keadaan batin ini dikatakan sempurna atau luhur karena merupakan cara bertindak dan bersikap yang benar dan ideal terhadap semua makhluk hidup.

Empat keadaan batin ini disebut kediaman sebab keempatnya semestinya menjadi tempat tinggal yang tetap bagi batin, seperti yang kita rasakan “di rumah”; empat keadaan batin ini janganlah hanya menjadi tempat yang jarang atau bahkan hanya sekedar di kunjungi, yang hanya segera dilupakan. Dengan kata lain, batin kita harus melebur sepenuhnya dalam keadaan luhur ini. Empat keadaan luhur ini seharusnya menjadi sahabat kita yang tak terpisahkan, dan kita harus sadar terhadapnya dalam aktivitas sehari- hari. Sebagaimana ungkapan dari Karaniyametta Sutta :

Ketika berdiri, berjalan, duduk, berbaring,

Selagi tiada lelap

Ia tekun mengembangkan ini

Yang dikatakan: Berdiam dalam Brahma



Pembagian Brahmavihara

Brahmavihara terdiri atas:

·         Metta
Cinta kasih universal, tanpa nafsu untuk memiliki, tanpa membedakan. Metta dapat diumpamakan sebagai: “ seorang ibu yang melindungi anaknya yang tunggal, sekalipun mengorbankan kehidupannya, seharusnya seseorang yang memelihara cinta kasih yang tidak terbatas itu kepada semua makhluk “. Nasihat sang Buddha tersebut adalah perasaan cinta kasih yang tidak didasarkan pada nafsu seorang ibu terhadap anaknya, melainkan keinginan yang murni untuk membahagiakan anaknya.

·         Karuna
Kasih sayang, bersyukur atas apa yang kita miliki, memiliki empati pada kesulitan makhluk lain. Kasih sayang-lah yang mendorong seseorang menolong orang lain dengan ketulusan hati. Orang yang memiliki kasih sayang yang murni tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua makhluk. Orang-orang yang pantas kita beri belas kasihan tidak hanya orang miskin saja tetapi juga orang yang kejam, pendendam, serakah, irihati, pemarah, serakah, mau menang sendiri, sakit, senang dan lain-lain. Sasaran utama mengembangkan karuna adalah terhadap makhluk yang sengsara dan menderita.


·         Mudita
Turut berbahagia atas kebahagiaan yang dirasakan makhluk lain. Mudita dapat mencabut akar irihati yang merusak. Mudita juga dapat menolong orang lain mencapai kebahagiaan. Sasaran utama mengembangkan mudita adalah terhadap semua makhluk yang makmur dan sejahtera.

·         Upekkha
Tenang seimbang, kondisi batin yang tenang dan tak tergoyahkan, baik oleh hal-hal yang membuat kita berbahagia maupun membawa penderitaan. Orang bijaksana tidak menunjukkan rasa gembira maupun kecewa dengan pujian dan celaan. Mereka tetap teguh bagaikan batu karang yang tak tergoyahkan oleh badai. Demikianlah mereka melatih keseimbangan batin



Referensi :

Nyanaponika Thera. 2000. Brahmavihara. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production

http://ipgabi.blogspot.com/2010/07/brahmavihara.html

DOGMA DOGMA DALAM BRAHMAJALA SUTTA DALAM PANDANGAN BUDDHIS

9:26 PM Add Comment
Latar Belakang

            Di zaman sekarang ini banyak kekerasan yang terjadi di negeri ini baik yag mengatasnamakan kelompok ataupun suku. Namun yang paling membuat kita mengelus dada adalah kekerasan yang mengatasnamakan agama. Alasannya karena apa yang dilakukan oleh orang lain itu tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Banyak dari pelaku kekerasan yang beralasan bahwa ajaran agama yang mereka anut itu harus ditegakkan dan bebas dari kekotoran yang menimbulkan dosa.

            Penafsiran salah terhadap ajaran agama inilah yang menyebabkan terjadinya konflik. Selain itu juga, kefanatikan terhadap ajaran agama inilah yang menuntut seseorang untuk melakukan apapun agar ajaran agamanya tetap bisa bertahan walaupun dengan cara yang salah. Dogmatisme memang tidak bisa dari agama karena dengan dogma inilah agama bisa tetap ada.

        Setiap agama memang mempunyai dogma yang beragam. Agama Buddha sendiri juga mempunyai dogma. Bahkan dahulu sebelum agama Buddha uncul juga sudah ada dogma.

Pengertian Dogma

Dogma adalah pokok ajaran (tt kepercayaan dsb) yg harus diterima sbg hal yg benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan atau keyakinan tertentu (KBBI). Dogmatisme adalah doktrin bahwa pikiran manusia mampu untuk mengetahui dengan kebenaran. Dogmatisme sebagai suatu sistem kepercayaan yang dapat membuat orang menjadi ekstrim.

Istilah ditthi dan dittthivāda merupakan istilah yang sama dengan dogma. Ditthi atau drsti dari akar kata drs (melihat) PTS adalah pandangan, kepercayaan, Dalam Pali canon kita menemukan konsep yang sama dengan dogma serta cara menyikapinya dogma, teori, dan spekulasi. Dalam Brahmajāla sutta terdapat 62 ditthi. Buddha mengindentifikasi salah satu dogmatits yaitu anussavikā (revelationist).

Dogma- dogma dalam Brahmajala Sutta

18 pandangan salah tentang masa lampau:

·         Empat pandangan kepercayaan atta dan loka adalah kekekalan (sassata ditthi)

·         Empat jenis kepercayaan dualisme pada kekekalan dan ketidak-kekelan (ekacca sassata ditthi)

·         Empat pandangan mengenai apakah dunia itu terbatas atau tak terbatas (antnanta ditthi)

·         Empat jenis pengelakan yang tidak jelas (amaravikkhepa vada)

·         Dua dokterin non sebab akibat (adhiccasamuppanna vada)


Berebagai pandangan salah mengenai masa depan terdapat 44 jenis

·         Enambelas  jenis kepercayaan pada adanya sanna setelah kematian (uddhamaghatanika sanni vada)

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang menganut ajaran bahwa “sesudah mati kesadaran tetap ada’ (aparantanoditthino), pandangan ini berpendapat bahwa sesudah mati ‘atta’ tetap ada; pandangan ini terbagi dalam enam belas pandangan. Mereka menyatakan tentang ‘atta’ sebagai berikut: “Sesudah mati, “atta “tetap ada, tidak berubah dan sadar”, dan

1)      Mempunyai bentuk (rupa)

2)      tidak berbentuk (arupa)

3)      berbentuk dan tidak berbentuk (rupa-arupa)

4)      bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n”evarupi narupi)

5)      terbatas (antava atta hoti)

6)      tidak terbatas (anantava)

7)      terbatas dan tidak terbatas (antava caanantavaca)

8)      bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n”evantava nanantava)

9)      memiliki semacam bentuk kesadaran (ekattasanni atta hoti)

10)  memiliki macam-macam bentuk kesadaran (anatta sanni)

11)  memiliki kesadaran terbatas (paritta sanni)

12)  memiliki kesadaran tidak terbatas (appamana sanni)

13)  selalu bahagia (ekanta sukhi)

14)  selalu menderita (ekanta dukkhi)

15)  bahagia dan menderita (sukha dukkhi)

16)  bukan bahagia atau pun bukan menderita (adukkham asukkhi)


·         Delapan jenis kepercayaan pada tidak adanya sanna setelah kematian (uddahamaghatanika asanni vada)

Mereka menyatakan bahwa ‘setelah mati ‘atta’ tidak berubah dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki kesadaran’ dan

1)            berbentuk (rupi)

2)            tidak berbentuk (arupi)

3)            berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)

4)            bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n’eva rupi narupi)

5)            terbatas (antava)

6)            tidak terbatas (anantava)

7)            terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)

8)            bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n’avantava nanantava)


·         Delapan jenis kepeercayaan pada adanya bukan sanna pun bukan non sanna setelah kematian (uddhamaghatanika nevasanni nasanni vada)

1.             Mereka menyatakan bahwa ‘setelah mati ‘atta’ tidak berubah dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki kesadaran’ dan

9)            berbentuk (rupi)

10)        tidak berbentuk (arupi)

11)        berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)

12)        bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n’eva rupi narupi)

13)        terbatas (antava)

14)        tidak terbatas (anantava)

15)        terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)

16)        bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n’avantava nanantava)


2.              “Para bhikkhu, inilah para petapa dan brahmana yang mengajarkan bahwa ‘sesudah mati’ ‘atta’ bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran”, yang terbagi dalam delapan pandangan”.


·         Tujuh jenis kepercayaan pada anihilasi uccheda vada)


3.             pandangan pertama, ada beberapa petapa dan brahmana yang berpendapat dan berpandangan seperti berikut: “Saudara, karena ‘atta’ ini mempunyai bentuk (rupa) yang terdiri dari ‘empat zat’ (catummahabhutarupa), dan merupakan keturunan dari ayah dan ibu; bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur, musnah dan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan berikutnya. Dengan demikian ‘atta’ itu lenyap. Demikianlah pandangan yang menyatakan bahwa ketika makhluk meninggal, ia musnah dan lenyap”.


4.             Pandangan ke dua. Orang lain berkata kepadanya: Saudara, ‘atta’ yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi ‘atta’ itu tidak musnah sekaligus, karena ada ‘atta’ lain lagi yang luhur, berbentuk, termasuk ‘alat kesenangan inderia’ (kamavacaro), ‘hidup dengan makanan material’ (kavalinkaraharabhakkho), yang kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui atau telah melihatnya. Setelah meninggal ‘atta’ tersebut tidak ada lagi, dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal dunia makhluk itu binasa, musnah dan lenyap”.


5.             Pandangan ke tiga. Orang lain berkata kepadanya: “Saudara, ‘atta’ yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi ‘atta’ itu tidak musnah sekaligus, karena ada ‘atta’ lain lagi yang luhur, berbentuk, dibentuk oleh pikiran (Manomaya), semua bagiannya sempurna, inderianya pun lengkap. ‘Atta’ seperti itu kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, ‘atta’ ini musnah dan lenyap. Setelah itu ‘atta’ tersebut tiada lagi, dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap”.


6.             Pandangan ke empat. Orang lain berkata kepadanya: “Saudara, ‘atta’ yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada ‘atta’ lain lagi yang melampaui ‘pengertian adanya bentuk’ (rupesanna) yang telah melenyapkan rasa tidak senang (pathigasanna), tidak memperhatikan penyerapan-penyerapan lain (nannattasanna), menyadari ruang tanpa batas’ (akasanancayatana).  ‘Atta’ ini kamu tidak ketahui atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal dunia, ‘atta’ ini musnah dan lenyap. Setelah itu, ‘atta’ tersebut tidak ada lagi, dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap”.


7.             Pandangan ke lima.  Orang lain berkata kepadanya: “Saudara, ‘atta’ yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi ‘atta’ tidak musnah sekaligus. Karena ada ‘atta’ lain lagi yang melampaui alam Akasanancayatana, menyadari kesadaran tanpa batas, mencapai alam ’Kesadaran tanpa batas’ (vinnanancayatana).  Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal, atta musnah dan lenyap. Setelah itu, ‘atta tersebut tidak ada lagi dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.


8.             Pandangan ke enam. Orang lain berkata kepadanya: “Saudara, ‘atta’ yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Vinnanancayatana, menyadari kekosongan, mencapai alam kekosongan’ (Akincannayatana). Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya.   Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, ‘atta’ tersebut tidak ada lagi, dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.


9.             Pandangan ke tujuh. Orang lain berkata kepadanya: “Saudara, atta yang seperti kau katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam Akincannayatana, mencapai alam ‘bukan penyerapan atau pun bukan tidak penyerapan’ (N’evasanna nasannayatana). Atta ini kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahi dan melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu, ‘atta’ tersebut tidak ada lagi, dengan demikian ‘atta’ musnah sama sekali”. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.

10.         inilah para petapa dan brahmana yang berpaham Annihilasi 4), yang memiliki tujuh pandangan dengan berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk binasa, musnah dan lenyap sama sekali. Para bhikkhu, demikianlah para petapa dan brahmana tersebut berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi.



·         Lima jenis nibbana duniawi sebagai yang bisa diwujudkan dalam kehidupan ini juga (ditthadhamma nibbana vada)

11.         “Para bhikkhu, dari semua pandangan tersebut, ada para petapa dan brahmana yang berpaham:

1)      Eternalis (sassata vada) yang menyatakan bahwa ‘atta’ dan ‘loka’ (bumi, dunia, semesta, jagad) adalah kekal dengan empat pandangan.

2)      Semi-Eternalis (sassata-asassata vada) yang menyatakan bahwa ‘atta’ dan ‘loka’ adalah sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, dengan empat pandangan.

3)      Ekstensionis (antanantika) yang menyatakan bahwa ‘atta’ dan ‘loka’ adalah terbatas dan tak terbatas, dengan empat pandangan.

4)      Berbelit-belit (amaravikkhepika), yang bilamana sebuah pertanyaan ditanyakan kepada mereka, mereka akan men-jawabnya dengan cara yang berbelit-belit, sehingga mem-bingungkan, dengan empat pandangan.

5)      Asal mula sesuatu terjadi adalah secara kebetulan (adhiccasamuppanika), yang menyatakan bahwa ‘atta’ dan loka’ terjadi tanpa adanya suatu sebab, dengan dua pandangan.

         Mereka semua itulah yang berpaham pada ‘keadaan masa yang lampau’!

6)      Setelah meninggal kesadaran tetap ada (uddhamagha-tanikasannavada) yang menyatakan bahwa ‘atta’ tetap hidup terus setelah meninggal, dengan enam belas pandangan.

7)      Setelah meninggal tanpa kesadaran (uddhamaghatanika asanni vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal ‘atta’ adalah tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.

8)      Setelah meninggal ‘ada kesadaran dan tanpa kesadaran’ (uddhamaghatanika n’evasanninasanni vada) yang menyatakan bahwa ‘setelah meninggal ‘atta’ adalah memiliki kesadaran dan tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.

9)      Annihilasi (ucchedavada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal makhluk binasa, hancur dan lenyap, dengan tujuh pandangan.

10)  Mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang ini (ditthadhammanibbanavada) yang menyatakan bahwa Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini, dengan lima pandangan

Pandangan Buddhisme Awal terhadap Munculnya Dogmatisme

Menurut pandangan Buddhisme akar dari semua dogma dalam Samyutta Nikāya adalah sakkāyaditthi (pandangan salah), sakkāyaditthi (salah satu dari 4 upādāna)  yang harus dihancurkan ketika mencapai tingkat sotāpanna. Jika tak ada sakkāya ditthi maka dogma-dogma tak akan ada. Menghilangkan dogma tentang diri bukan berarti dogma “tidak ada diri” diadakan, karena itu merupakan refleksi yang salah. Melenyapkan konsep adanya diri bukan berarti memunculkan konsep diri tidak ada.

Sabbhasava sutta: Pada orang yang merefleksi secara salah, satu diantara enam pandangan umum muncul: padanya muncul pandangan, “Aku mempunyai diri” sebagai benar dan pasti atau padanya muncul “Aku tak ada diri” sebagai benar dan pasti.

Dogmatisme bisa menyebabkan pertikaian karena sesorang telah melekat pada dogma akan mempertahannya dan menganggap itu adalah yang paling benar. Sehingga akan memandang orang lain adalah orang yang salah dan tidak pantas dihormati. Dalam diri seseorang tersebut akan menyebabkan keombongan karena dogma yang dia anut adalah yang terbaik dan yang paling benar.


Khotbah pada suku Kalama (Kalama Sutta):


Janganlah bertindak hanya atas dasar kekuasaan kitab-suci (pitaka sampada) .... tapi bila engkau mengetahui sendiri: "Hal-hal ini adalah baik, hal-hal ini tidak akan dipersalahkan, hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana, dan bila dilaksanakan serta diikuti, membawa kebajikan dan kebahagiaan," maka ikuti dan mantaplah dengannya.[A, I: 187]


Kesimpulan

Pada dasarnya buddhisme awal memandang segala sesuatu itu tanpa kekekalan dan tidak menghendakki adanya konflik. Dengan demikian maka penderitaan akan dapat dikurangi dan dihilangkan. Karena seseorang yang menganut agama menghendakki kebahagiaan dengan jalan seseorang tersebut menjalankan dogma dari ajaran tersebut dengan benar dan sesuai.

            Setiap agama atau system kepercayaan yang dianut seseorang mempunyai dogma termasuk agama Buddha.

Daftar Pustaka

·         http://kamusbahasaindonesia.org/dogma/mirip#ixzz2ibxhRlHy (diakses tanggal 24 Oktober 2013).

·         Dhirasekera, jotika. 1979. Encyclopaedia of Buddhism Vol.IV. The Government of Ceylon 

https://www.facebook.com/notes/artikel-buddhis/dasar-pandangan-agama-buddha-bag29-sumber-sumber-ajaran-oleh-bhikkhu-s-dhammika/400591933705?comment_id=12982934&offset=0&total_comments=1 (diakses tanggal 24 Oktober 2013).