Loading...

infeed1

TATA KRAMA DI VIHARA

9:21 PM Add Comment
Tata krama dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya disaat kita sedang di rumah, sekolah, ataupun di tempat umum lainnya. Tata krama juga hendaknya kita praktikkan di tempat ibadah salah satunya dalah vihara. Tata krama ini bertujuan agar kita dapat bersama-sama memelihara dan menciptakan kondisi yang menunjang vihara sebagai tempat kebaktian/ibadah, tempat belajar Dhamma, dan tempat praktik dhamma. Berikut ini sedikit tata krama yang dapat dipraktikkan secara jasmani dan rohani:
Pakaian
1.      Memasuki vihara dengan pakaian yang rapi, bersih, dan sopan. Tidak menggunakan busana ketat, rok mini, celana pendek, dan baju tanpa lengan.
2.      Tanggalkan alas kaki (sepatu atau sandal) dan bukalah topi atau penutup kepala lainnya sebelum memasuki vihara atau dhammsala.
Pikiran
1.      Usahakan memasuki halaman vihara dengan pikiran yang penuh cinta kasih.
2.      Berusahalah menjaga kesadaran agar selama berada di dalam vihara pikiran anda benar-benar suci. Kesadaran ini bertujuan agar pikiran selalu waspada terhadap pikiran-pikiran negative dan mampu mengembangkan pikiran positif.
Ucapan
1.      Berilah salam (“Namo Amithuofo”, “Suvatti Hotu”, “Sukkhi Hotu”, dsb) dengan beranjali jika bertemu sesame umat Buddha. Umat yang baru tiba atau yang lebih muda seyogianya memberikan salam terlebih dahulu.
2.      Usahakan tidak berbicara yang tidak benar, tidak sopan/melanggar tata susila, dan kasar di dalam vihara.
3.      Jagalah keheningan. Hindari bergosip dan berbicara yang tidak berguna. Hindari pula berbicara dengan suara yang keras/berteriak.
Perbuatan
1.      Setiba di vihara sebaiknya yang dilakukan terlebih dahulu adalah memasuki ruang kebaktian dan bersujud (namaskara) di depan altar.
2.      Jika akan mengikuti kebaktian, usahakan dengan hening lalu menuju tempat duduk. Tunggulah dengan sabar dimulainya kebaktian, gunakan waktu dengan hala berguna seperti meditasi. Jika tidak dapat duduk diam, dengan hening, tinggalkanlah ruangan kebaktian dan menunggu di luar.
3.      Tidak membunuh, mencuri, berbuat yang tidak sopan/melanggar susila, dan minum minuman keras/obat terlarang di dalam vihara.
4.      Tidak merokok di dalam vihara.
5.      Tidak membawa senjata tajam, hasil pembunuhan, minuman keras, obat terlarang, serta barang-barang yang terlarang di negara Republik Indonesia.
6.      Tidak berjualan di vihara, kecuali telah mendapatkan ijin dari kepala vihara.
7.      Pengumpulan dana untuk keperluan vihara lain/organisasi lain harus seizing kepala vihara.
8.      Usahakan tidak mengambil dan memindahtempatkan barang-barang yang ada di vihara.
9.      Buanglah sampah pada tempat sampah yang telah disediakan, sampah kering dan sampah basah hendaknya dibuang di tempatnya masing-masing.
10.  Tidak mencorat-coret tembok,dan merusak, menginjak, atau memetic tanaman milik vihara.
11.  Usahakan tidak memukul, melukai, dan membunuh semua jenis hewan yang berada di lingkungan vihara.



Sumber:
Buku Tata Krama dan Tata Tertib di Vihara terbitan Penerbit Dian Dharma tahun 2007.

PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI CHINA

9:15 PM Add Comment
                                      http://www.chinadiscovery.com/assets/images/travel-guide/leshan/giant-buddha/leshan-giant-buddha-fact-876-2.jpg

A.    Latar Belakang
Agama Buddha pada awal masehi terbagi menjadi dua aliran besar yaitu aliran selatan dan utara. Aliran selatan berdasarkan naskah awal kotbah sang Buddha,menitik beratkan pada sanha dan pada pencapaian Nivarana secara pribadi, menuju kepada pencapaian arahat. Theravada modern yang sekarang berkembang di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos dan srilanka merupakan ahli waris dari aliran selatan dan aliran/ sekte theravada masih berkelanjutan. Sedangkan aliran utara atau mahayana lebih menitik beratkan pada tujuan Bodhisattva yaitu seseorang yang sudah mencapai tingkat ke-Buddha-an sehingga tidak perlu dilahirkan, namun masih mau dilahirkan untuk menolong dan menyelamatkan orang lain yang belum mencapai tingkat kesucian. Mahayana hingga saat ini dapat dijumpai di Tibet, Nepal, China, Vietnam, Korea dan Jepang.
B.     Awal Mula Agama Buddha Masuk Ke Cina
Agama Buddha berkembang ke Cina sekitar abad kedua sebelum Masehi melalui Asia Tengah serta mulai berpengaruh pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58- 75 M). Sejak Dinasti Han (25- 220M) pengaruh agama Buddha mulai menjadi perhatian dan persoalan. Kira- kira pada masa itulah Mo Tzu menyusun bukunya Li- huo- lun (Menangkis Kekeliruan) sebagai apologia (pembelaan) agama Buddha.
Pada tahun 147 M seorang bhiksu dari Asia Tengah bernama Lokaraksha telah menetap di Loyang, ibukota Dinasti Han masa itu. Pada abad 2, ke 3 dan ke 4 banyak bhiksu dari India ke Cina dan giat menyalin berbagai Sutra dan Sastra kedalam Bahasa Cina.
Pada tahun 399 M seorang bhiksu dari Cina bernama Fa- Hien, bersama rombongannya terdiri atas 10 orang,melawat ke India melalui jalan darat untuk mempelajari agam Buddha. Pada tahun 413M, ia pulang melalui jalan laut dengan singgah di Sriwijaya (Sumatra) dan Jawa. Ia giat menyalin berbagai sutra. Catatannya mengenai negeri- negeri Buddha (Record of Buddhist Countries) terkenal  samapi kini.
Perkembangan agama Buddha di China disebabkan oleh banyak tokoh terpelajar yang pergi ke India atau Sri Lanka untuk belajar melalui kitab-kitab dan filsafat agama Buddha di India atau sri Lanka. Di India maupun Sri Lanka para pelajar tersebut belajar dengan guru yang berbeda- beda, sehingga pelajaran tentang agama Buddha yang di dapat juga berbeda-beda. Sekembalinya ke negaranya, pengetahuan yang telah didapatkan itu kemudian mereka tularkan kepada masyarakat sehingga ajaran agama Buddha menyebar. Para terpelajar mempunyai banyak pengikut dan mendirikan aliran tersendiri yang sendiri sesuai dengan ajarannya masing-masing. Di samping mengajarkan tentang agama Buddha para pelajar juga menerjemahkan Kitab Agama Buddha ke dalam bahasa China
C.    Aliran- aliran Agama Buddha di Cina
1.      Aliran Theravada
a)      Cheng- shih (di India bernama aliran Sautrantika), yang berpendirian bahwa dharma dan kehidupan itu hanya maya realitas. Aliran ini berkembang sampai abad ke- 6 dan mengalami kemunduran pada abad ke- 8 ditelan aliran San- lun (Mahayana).
b)      Chu- she (di India bernama aliran Vaibashika), berpendirian bahwa dharma dan kehidupan itu hanya realitas. Aliran ini berkembang sampai abad ke- 7 dan mengalami kemunduran dan ditelan aliran Mahayana.
c)      Lu, yaitu aliran yang mempertahankan tata tertib yang ketat bagi kehidupan sangha, berdasarkan Vinaya- Pitaka. Doktrin dari aliran ini disempurnakan oleh Tao-shuan (596- 667 M), seorang bhiksu terkemuka dari Gunung Selatan. Pada tata- tertib yang ketat itu termasuk 250 buah larangan bagi bhiksu dan 348 buah larangan bagi bhiksuni. Lambat laun aliran tersebut meresapi aliran yang lain sehingga bukan aliran tersendiri.
2.      Aliran Mahayana
a)      San- lun
San- lun bermakna: Tiga Sutra. Aliran itu berdasarkan tiga karya yang disalin Kumarajiva ke dalam bahasa Cina. Dua buah daripadanya adalah karya Nagarjuna dan sebuah lagi karya muridnya, Deva. Aliran ini di India bernama Madhyamika (aliran tengah). Aliran tersebut berpendirian bahwa seluruh alam luar itu hanya suatu realitas terbatas belaka, tidak merupakan realitas penuh. Titik tolak aliran Madhyamika itu berpangkal pada empat dalil yang pada intinyamenolak setiap idea tentang: ada, tidal ada, srentak ada dan tidak ada, serentak ada dan bukan tidak ada. Aliran ini di China dikembangkan dan makin disempurnakan oleh Dhi-Tsang (549-623 M), seorang Bhikkhu yang terayah dari Parsi dan ibu dari China.
b)      Wei- shih
Wei- shih itu bermakna: hanya kesadaran. Aliran ini di India dikenal dengan Vijnnana Vada yang dibangun oleh Asanga. Sebelum buah tangan Asanga disalin kedalam bahasa China maka aliran ini dikenal dengan sebutan She-Lun. Aliran ini belakangan dikenal dengan aliran Fahsiang (Dharmakaya), dibangun oleh Huan-Shang (596-664 M). seorang Bhikkhu, penyalin dan ahli pikir.
c)      Tien- tai
Tien- tai di Jepang disebut dengan aliran Nichiren. Apabila pada mulanya aliran ini berdasarkan pada Saddharma-Pundarika-Sutra (seroja dari hukum terbaik), tetapi dalam perkembangannya penapsiran terhadap karya tersebur yang diberikan oleh Chih-kai (538-597 M). Chih-kai adalah nama seorangBhikkhu berasal dari wilah gunung Tien-tai dalam provinsi Chikyang, tempat Chih-tai membuka perguruanya. Pandangan-pandangan Gheieh-kai dicatat dan dihimpun oleh muridnya, kuan-ting, dan merupakan tiga-karya-besar dari aliran Tien-tai itu yaitu:
1.      Fa-hua wen-chu: kata dan kalimat dalam seroja
2.      Fa-hua hsuan-i:npangertian yang lebih dalam dariseroja
3.      Mo-ho Chih-kuan: kesadaran dan renungan
d)     Hua- yen
Aliran ini bermakna Kalung Bunga (Flower Garland School). Aliran Hua- yen ini berdasarkan Avatamsaka- Sutra, sebuah karya dari India Utara, mengemukakan ajaran Sakyamuni dalam kedudukannya sebagai penjelmaan Buddha Vairochana. Aliran ini mula- mula dibangun oleh Tua- shun (557- 640 M), kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Fa- tsang (643- 712 M),seorang Guru Besar dari Hsien- show. Pokok ajaran utama aliran ini adalah Kausalitas Universil, yaitu hukum sebab- musabab yang universil.
e)      Chan
Aliran Chan di Cina di India dikenal dengan aliran Dhyana dan di Jepang aliran Zen. Dhyana itu bermakna samadhi (meditasi). Chan dan Zen ini perubahan bunyi menurut dialek Cina dan Jepang.
f)       Ching- tu
Aliran Ching- tu ini juga disebut dengan aliran Sukhavati (Happy Land School),didasarkan pada Sukhavati- Vyusha- Sutra. Sukhavati ini dikuasai oleh Buddha Amitabha, di Cina disebut Kwan- Yin dan di Jepang disebut Amida.
g)      Chen- yen
Chen- yen bermakna Kata yang Benar. Aliran ini berpendirian bahwa alam semesta ini berisikan tiga misteri: pikiran, bicara dan perbuatan.  Doktrin ini pada awalnya berpengaruh di Cina tetapi berangsur- angsur mundur kecuali di Tibet dan di Jepang.
D.    Tanggapan Masyarakat Cina Terhadap Agama Buddha
 Ketika agama Buddha masuk ke China, pada dasarnya tidak mau menerima karena masyarakat berangapan bahwa agama Buddha merupakan agama mistik. Karena pada saat itu di China terdapat aliran Kong Hu Chu dan Tao sehingga masyarakat belum dapat menerima kedatangan agama Buddha. Akan tetapi tidak lama kemudian masyarakat China dapat menerima kedatangan Agama Buddha karena masyarakat di China berangapan bahwa agama Buddha memiliki nilai dan fungsi dalam praktik spiritual dan juga mengajarkan tingkah laku yang baik.
Masyarakat Cina yang menerima agama Buddha Mahayana memandang dan menerima Buddha Sakyamuni sesuai dengan pandangan/ pemikiran Mahayana, dimana Buddha Sakyamuni diterima sebagai perwujudan Dharmakaya dan bersifat di atas manusia. Buddha Sakyamuni diterima tidak berbeda dengan para Buddha lainnya. Masyarakat Cina lebih memberikan perhatian kepada para Bodhisattva yang dapat membantu manusia keluar dari penderitaannya melalui pemujaan kepada mereka.
E.     Kemunduran Agama Buddha di Cina
Pada tahun 845 agama Buddha di Cina menghadapi cobaan berat. Kaisar Wu Zongyang berkuasa mengeluarkan perintah untuk menghabisi agama Buddha karena pertimbangan ekonomi. Lebih dari 4600 vihara dan 40000 biara diwilayah kerajaan dihancurkan, lebih dari 260500 bhiksu dan bhiksuni dipaksa kembali ke kehidupan rumah tangga sementara lebih dari 150000 dipaksa bekerja dikerajaan. Demikian pula tidak dapat dibayangkan banyaknya karya- karya sutra dan sastra yang ditulis selama 6 dinasti ikut terbakar dan hancur.
Dalam keadaan tersebut yang dapat bertahan hanya aliran Chan saja karena aliran ini tidak bergantung pada kitab- kita suci ataupun upacara. Krisis yang terjadi pada masyarakat Cina setelah runtuhnya dinasti Han telah diisi oleh nilai- nilai yang dibawa oleh ajaran agama Buddha yang masuk melewati Asia tengah.
Referensi:
Wahyono, Mulyadi. 1992. Sejarah Perkembangan Agama Buddha 1. Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha dan Universitas Terbuka

Padmasambhava

11:46 PM Add Comment

Guru Padmasambhava atau Urgyen ( dalam bhs Tib ) atau biasa disebut Guru Rinpoche adalah seorang yang mencapai tingkat Kesucian dengan belajar dari Samma Sambuddha. Beliau lahir di India, seperti yang biasa disebutkan dalam doa Inspirasi Agung, " Disebelah Barat Negeri Uddiyana lahir dari sebuah Teratai, ia disebut Urgyen ( Padmasambhava ).
Guru Padmasambhava – Kelahiran Teratai, juga dikenal sebagai: “Guru Singa Mengaum” adalah sosok penting dalam sejarah Buddhisme Tibet, dipuji karena keberhasilannya dalam memperkenalkan Buddhisme Tantra ke Tibet (sekitar 750 CE).Ia adalah penting bagi semua yang ingin memahami perumpamaan dan symbol yang berhubungan dengan transisi Buddhisme dari India ke bentuk Tibet.  Ia juga penting secara tidak terduga (oleh banyak orang) sehubungan dengan transmisi dan evolusi Hindu India dan Buddhist Simhanada Vajramukti menjadi ‘Tibetan’, Auman Singa! Seni beladiri. Padmasambhava- Kelahiran Teratai, juga dikenal sebagai: “Guru Singa Mengaum” – khususnya dalam salah satu dari delapan ‘wujud’ nya – Guru Senge Dradog (Tibet).
Riwayat Padmasambhava (juga dikenal sebagai Vajraguru)
Padmasambhav, lebih terkenal sebagai Guru Rinpoche, dihormati oleh seluruh silsilah Buddhisme Tibet, dan gambarnya jelas dipasangkan disebelah Sang Buddha di banyak Kuil Buddhis, viharam dan di rumah-rumah. Banyak umat, khsuusnya dari aliran Nyingma yang didirikan oleh Padma, menganggapnya sebagai Buddha ke dua.
Padma bukanlah makhluk biasa, praktisi biasa, juga bukan seorang bodhisattva mulia. Ia adalah emanasi langsung dari semua Buddha di sepuluh penjuru dan tiga masa. Ia adalah junjungan yang maha mencakup ketiga permata Buddha, Dharma dan Sangha. Ia adalah perwujudan tunggal kebijaksanaan, belas kasihan dan aktivitas dari seluruh Pemenang. Ia adalah Guru dari tiga akar Guru, Yidam dan Pelindung. Ia adalah inti dari Buddha Amitabha.
Dalam Dharmakaya, ruang luas kesadaran primordial, Padma tidak terpisah dari Buddha primordial Samantabhadra. Dalam Sambogakaya, ekspresi spontan kesadaran primordial, Padma tidak terpisah dari Buddha Vajradhara, bermanifestasi sebagai emanasi kebijaksanaan para Bhyani Buddha. Dalam Nirmanakaya, pertunjukan energi belas kasihan dari para Buddha Sambhogakaya, Padma pertama-tama muncul dalam bentuk setenagh wujud di alam Mahabrahma, di mana hanya para Bodhisattva mulia yang dapat melihatnya. Ia kemudian muncul di hadapan makhluk-makhluk biasa sebagai banyak Nirmanakaya dari Yang Tercerahkan Sempurna, seperti Buddha Shakyamuni, dan dalam seluruh perwujudan kelahiran yang tidak terhitung banyaknya. Pertunjukan manifestasi ini muncul terus-menerus selama masih ada makhluk-makhluk hidup.
Dakini Yeshe Tsogyal mengalami suatu manifestasi Padma dalam mimpi.Masing-masing pori-pori tubuhnya bersisikan satu milyar alam, dan dalam masing-masingnya terdapat satu milyar sistem dunia. Dalam masing-masing sistem dunia berdiam satu milyar Padma yang menciptakan satu milyar emanasi, dan masing-masing emanasi ini mengajarkan kepada satu milyar siswa. Pertunjukan ini, yang ia sebut Samudera Vajra yang sangat luas, berulang pada tiap-tiap arah utama.
Padma bermanifestasi secara bersamaan dalam tidak terhitung banyaknya sistenm dunia untuk mengajarkan dan mengalih-yakinkan semua makhluk, baik manusia, dewa, setan atau siluman, khususnya mereka di masa gelap yang sulit diyakinkan, dan ia muncul di hadapan mereka dalam bentuk yang sesuai dengan karma individual mereka. Dalam salah satu otobiografinya, ia menjelaskan, “Pada saat ini, dalam Kaliyuga perselisihan dan permusuhan, makhluk-makhluk tanpa membeda-bedakan berkubang dalam lumpur beracun kebencian, nafsu, kebingungan, iri-hati dan keangkuhan. Khususnya untuk membantu makhluk-makhluk yang paling sulit ditolong, para Buddha tubuh sederhana tanpa batas mengandung diriku dengan Pikiran mereka yang terkonsentrasi, para Buddha tubuh kenikmatan semu menahbiskan gaya kehidupanku dengan watak belas kasihan mereka dan para Buddha jelmaan belas kasihan menegaskan perwujudanku dengan kekuatan kelompok mereka. Demikianlah, aku, Orgen Padma, Guru Kelahiran Teratai, muncul di dunia ini.”
Dalam sistem dunia kita, 1000 Buddha akan muncul, dan pada masing-masing dari para Buddha ini akan ada 1000 Padma untuk melakukan aktivitas-aktivitas mereka. Para Padma ini aadlah emanasi batin Amitabha, emanasi ucapan Avalokitesvara, dan terutama membantu makhluk-makhluk yang tersesat dalam masa gelap di mana para Buddha dan para Bodhisattva tidak muncul. Dalam masa kita sekarang, masa Buddha Shakyamuni, Padma muncul dalam seluruh enam alam samsara. Di alam manusia, ia adalah tubuh emanasi Buddha Shakyamuni dan kehidupannya and perbutannya adalah pertunjukan gaib untuk mengalih-yakinkan makhluk-makhluk biasa kepada Dharma sesuai kapasitas individual mereka, kecenderungan dan kebutuhan mereka. Dalam biografi, dikatakan bahwa Padma, kebal terhadap penyakit, usia tua dan kematian, masih hidup dan membabarkan Dharma kepada makhluk-makhluk. Ketika Padma melakukan perjalanan ke Tibet, ia berusia lebih dari 1000 tahun. Padma mengatakan bahwa ia telah hidup dalam kelahiran duniawinya yang sekarang selama lebih dari 3600 tahun.
Referensi:
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=14805.165 (diakses tanggal 3 April 2013)

CŪĻAKAMMAVIBHAŃGA SUTTA (Penjelasan Pendek tentang Tindakan)

9:15 PM Add Comment


Disampaikan oleh   : Sang Buddha
Kepada                    : Seorang siswa brahmana bernama Subha
Tempat                   : Savathi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika
Latar belakang       : Pada waktu Sang Buddha berada di Savathi, seorang siswa brahmana bernama Subha, anak lelaki Todeyya pergi menemui Sang Buddha dan bertukar sapa dengan Beliau.
Inti sutta                 : Penyebab dan kondisi dari suatu tindakan.
Pembahasan           
            Seorang siswa brahmana bernama Subha menanyakan kepada Guru Gotama mengenai apa penyebab dan kondisi sehingga manusia terlihat ada yang inferior[1] dan superior[2], manusia ada yang pendek umur dan ada yang panjang umur, ada yang sakit sakitan dan ada yang sehat, ada yang buruk rupa ada yang elok rupawan, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang lahir di kalangan rendah dan ada yang di kalangan atas, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana.
            Kemudian dari pertanyaan tersebut Sang Buddha menanggapinya antara lain:
-          Seseorang yang memiliki sifat pembunuh, suka membunuh makhluk, suka berkelahi, suka kekerasan, tidak berbelas kasihan pada makhluk hidup maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan tidak bahagia dan bila dilahirkan menjadi manusia maka di manapun dia dilahirkan kembali, akan berumur pendek.
-          Sebaliknya seorang tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila dilahirkan menjadi manusia maka di manapun dia dilahirkan kembali, akan berumur panjang.
-          Seseorang suka melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bungkahan, dengan tongkat atau dengan pisau maka setelah meninggal akan muncul kembali dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi sakit-sakitan.
-          Sebaliknya, bila seseorang tidak melakukan hal seperti itu maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia akan sehat.
-          Seseorang yang memiliki watak pemarah, mudah tersinggung bila dikritik, mudah marah, bersikap bermusuhan dan penuh kebencian, dan menunjukan kemarahan, kebencian dan kepahitannya itu maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi buruk rupa.
-          Sebaliknya bila seseorang tidak memiliki watak seperti itu maka maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi elok rupawan.
-          Seseorang memiliki sifat iri hati; membenci; dan menggerutu karena perolehan, rasa hormat, penghormatan, pujian, rasa salut, dan rasa kagum yang diterima oleh orang lain maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi tidak berpengaruh.
-          Sebaliknya, bila seseorang tidak memiliki sifat seperti itu maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi berpengaruh.
-          Seseorang yang tidak pernah memberikan makanan, minuman, pakaian, kendaraan, rangkaian bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat tidur, tempat berdiam, dan lampu kepada pertapa dan brahmana maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi miskin.
-          Sebaliknya bila seseorang senang berdana dan melakukan perbuatan baik maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi kaya.
-          Seseorang yang memiliki sifat keras kepala dan sombong; tidak menghormat pada orang yang layak menerima penghormatan, maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia dilahirkan di kalangan rendah.
-          Sebaliknya bila seseorang memiliki sifat tidak sombong dan menghormati kepada yang patut dihormati maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia dilahirkan di kalangan atas.
-          Seseorang tidak mengunjungi petapa atau brahmana dan menanyakan berbagai pertanyaan seperti apa yang bajik, apa yang tidak bajik, apa yang tercela, tidak tercela, apa yang harus dikembangkan, apa yang tidak dikembangkan, perbuatan apa yang akan membawa kesejahteraan dan tidak. Maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan kekurangan dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi bodoh.
-          Sebaliknya bila seseorang mengunjungi petapa dan menanyakan pertanyaan tersebut serta melakukan dan menjalankan perbuatan tersebut maka setelah meninggal akan terlahir dalam keadaan yang bahagia dan bila terlahir menjadi manusia di manapun dia dilahirkan kembali, dia menjadi bijaksana.
Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh Sang Buddha kepada siswa brahmana tersebut atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada Sang Buddha.
Akhir khotbah: siswa brahmana Subha yang sebagai pengikut umat awam menyatakan telah berlindung kepada Sang Buddha seumur hidupnya.
Kesimpulan:
Semua makhluk yang terlahir dalam kedadaan apa pun itu semua karena suatu makhluk adalah adalah pemilik tindakan mereka, pewaris tindakan mereka, terikat pada tindakan mereka, memiliki tindakan sebagai tempat berlindung, tindakan yang membedakan makhluk-makhluk menjadi inferior dan superior.
Referensi
Bhikkhu Nanamoli dan Bhikkhu Bodhi. 2008. Terjemahan The Middle Length Discourses of the Buddha. Klaten: Vihara Bodhivamsa.


[1] inferior /inférior/ a 1 bermutu rendah; 2 ki(merasa) rendah diri (KBBI, 2008:571)
[2] superior n 1 orang atasan; pemimpin; 2 kepala biara (pembesar) rumah ibadah (KBBI, 2008:1250)