infeed1

SILA

12:12 PM Add Comment

SILA

            Dalam Jalan Tengah Berunsur Delapan yang terbagi menjadi 3 bagian besar, yaitu: Sila, Panna, dan samadhi. Sila merupakan dasar dari dua bagian besar lainnya Panna dan Samadhi. Sebagian besar dari kita belum mengetahui apa itu Sila, untuk itu penulis akan membahasnya dalam uraian berikut.
a.      Pengertian Sila
Sila merupakan dasar yang utama dalam pengamalan ajaran agama, merupakan langkah pertama yang sangat penting untuk meningkatkan batin yang luhur.
b.      Ciri, Fungsi, Wujud Dan Sebab Terdekat Dari Sila
Ciri Sila (Lakkhana) adalah ketertiban dan ketenangan. Sila dengan jalan apapun akan menggambarkan ketertiban dan ketenangan yang terpelihara dan dipertahankan dengan pengendalian pikiran, ucapan dan perbuatan.
Fungsi (rasa) adalah untuk menhancurkan yang salah (dussiliya) dan menjaga agar orang tetap tidak bersalah (ancajja). Secara singkatnya, yaitu:
Ø  Menghancurkan kejahatan.
Ø  Memperbaiki perbuatan-perbuatan yang salah.
Ø  Menjaga, atau memelihara, atau mempertahankan perbuatan baik.
Wujud sila (paccupatthana) adalah kesucian (soceyya). Kita mengenal seseorang dengan melihat rupanya, demikian pula kita dapat mengenal Sila dengan wujudnya yang suci yang terlihat pada perbuatan jasmaniah (kaya Soceyya), ucapan (Vaci soceyya), dan pikiran (mano soceyya).
Sebab terdekat adalah Hiri dan Ottapa, hiri adalah perasaan malu untuk berbuat jahat atau kesalahan, ottapa ada perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahat. Hiri dan Ottapa disebut Lokapaladhamma atau pelindung dunia.
c.       Faedah Sila
Dalam Maha Parinibbana Sutta, sang Buddha bersabda:
·         Sila menyebabkan seseorang memiliki banyak harta kekayaan.
·         Nama dan kemashyurannya akan tersebar luas
·         Dia menghadiri pertemuan atau acara, ia tidak akan takut dicela atau didakwa orang banyak.
·         Sewaktu akan meninggal hatinya tentram, dan
·         Akan terlahir dialam surga.
Selain itu, Sang buddha bersabda dalam Akankheya Sutta dalam Majjhima Nikaya,
“Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu berharap’ semoga saya menjadi kecintaan, kesukaan, kehormatan, kepercayaan, kebanggaan bagi sahabat- sahabat sepenghidupan suci’ hendaknya ia menyempurnakan sila”.
            Apabila kita ingin dicintai, disukai, dihormati semua orang kita hendaknya selalu melaksanakan sila. Tidak hanya seorang bhikkhu, dengan sila perbuatan, ucapan, dan pikiran kita menjadi terkontrol. Dengan demikian, akan akan mudah merealisasikan nibbana.
           
d.      Bentuk Sila
Dalam kitab Vissudhi Magga, sila- sila dibagi dalam lima klasifikasi yaitu:
Klasifikasi pertama, terdiri dari satu bagian dan terdiri dari satu kelompok: semua sila yang bertujuan dan membawa peningkatan batin yang luhur.
Klasifikasi kedua, terdiri dari tujuh bagian, yaitu:
·         Caritta sila atau varitta sila.
Melakukan apa yang telah ditetapkan oleh sang Buddha merupakan Caritta sila sedangkan tidak melakukan apa yang ditetapkan oleh Sang Buddha adalah varrita sila.
·         Abhisamacarika- sila dan adibrahmacarika sila.
Pola perilaku kehidupan keviharaan yang luhur adalah abhisamacarika sila dan adibrahmacarika sila adalah kondisi awal untuk jalan kehidupan suci.
·         Viratti- sila dan aviratti- sila.
Pantangan yang merupakan unsur utama untuk timbulnya sila adalah viratti sila. Aviratti sila adalah suatu sila yang bercorak kehendak (cetasika viratti) dan kehendak ini merupakan unsur utama timbulnya sila.
·         Nissita- sila dan anissita- sila.
Nissita- sila adalah sila yang berkaitan dengan keinginan atau pendangan salah. Sila yang tidak berkaitan dengan keinginan atau pendangan salah adalah anissita- sila.
·         Kalapariyanta- sila dan apanakotika- sila.
Sila yang pelakunya bertekad untuk melaksanakannya dalam waktu terbatas adalah kalapariyanta- sila dan sila yang pelakunya bertekad untuk melaksanakannya dalam waktu seumur hidupnya adalah apanakotika sila.
·         Saripayanta-  sila dan apariyanta- sila.
Saripayanta- sila adalah sila yang dilanggar demi keuntungan, kemashyuran, sanak keluarga, anggota badan, dan hidup. Sila yang dilaksanakan dengan konsisten meskipun harus mengorbankan jiwanya adala apariyanta- sila.
·         Lokiya- sila dan lokuttara- sila.
Sila yang disertai oleh kekotoran batin adalah lokiya- sila dan yang tidak disertai kekotoran batin adalak lokuttara – sila.
            Klasifikasi ketiga, terdiri dari lima bagian yaitu:
·         Hina- sila, majjhima- sila, dan panita sila.
Sila yang dilaksanakan unntuk kemashyuran, kedudukan, dsb disebut hina- sila; bila dilaksanakan demi hasil kebajikan adalah majjhima- sila; yang dilaksanakan dengan pengertian bahwa sila itu sewajarnya, sudah sepatutnya dilaksanakan disebut panita- sila.
·         Attadhipateyya- sila, lokadhipateyya- sila, dan dhammadhi- pateyya- sila.
Attadhipateyya- sila adalah sila yang dilaksanakan untuk kehormatan bagi dirinya sendiri karena kedudukannya dan untuk menghargai dirinya. Sila yang dilaksanakan berdasarkan pertimbangan untuk pendapat umum disebut lokadhipateyya- sila, dan bilamana sila dilaksanakan demi menghormati Dahamma adalah dhammadhi- pateyya- sila.
·         Paramattha- sila, aparamattha- sila, dan patipasadhi- sila.
Sila- sila yang termasuk ke dalam nissita- sila adalah paramattha- sila. Sila yang sedikit dicemari oleh keinginan dan pandangan- pandangan salah dari seorang perumahtangga yang bajik (kalyana putthujana) dan sila dari orang suci (ariya puggala) yang masih harus melatih diri lagi ( sekha puggala) dinamakan aparamattha- sila. Sila dari Arahat, orang suci yang tidak perlu lagi melatih diri (asekkha puggala), disebut patipassadhi- sila.
·         Visuddha- sila, avisuddha- sila,dan vematika- sila.
Sila dari seseorang yang telah dibersihkan kembali setelah terjadi pelanggaran sila disebut vissudha- sila. Sila dari seseorang  yang telah melanggar sila dan tidak membersihkannya kembali disebut avissudha- sila. Sila yang dilaksanakan oleh seseorang yang ragu- ragu apakah sudah terjadi pelanggaran, atau sampai taraf manakah itu terjadi atau apakah dirinya sudah melaksanakan pelanggaran disebut vematika- sila.
·         Sekha- sila, asekha- sila dan nevasekha- nasekha- sila.
Sila dari mereka yang telah mencapai Sotapanna- magga sampai dengan Arahanta- magga adalah sekkha- sila dan sila dari mereka yang telah mencapai Arahanta- phala adalah asekkha- sila, sedangkan selebihnya yang tercantum diatas disebut nevasekkha- nasekkha- sila.
            Klasifikasi keempat, terdiri dari empat bagian yaitu:
·         Hanabhagiya- sila, thitibhagiya- sila, visesabhagiya- sila, dan nibbedabhagiya- sila.
Hanabhagiya- sila adalah sila dari seseorang yang jatuh dari suatu kedudukan sila karena kecerobohan sedangkan sila dari sesorang yang tetap dimana ia berada, tidak mengalami kejatuhan, adalah thitibhagiya- sila. Sila dari seseorang yang mendapat kemajuan dalam kehidupan keagamaan karena silanya disebut visesabhagiya- sila. Sila dari seseorang yang mendapat pandangan terang sehingga dapat melihat hakikat fenomena alam sebagaimana adanya disebut nibbedabhagiya- sila.
·         Bhikkhu- sila, bhikkhuni- sila, anupasampanna- sila, dan gahattha- sila.
Bhikkhu- sila adalah semua peraturan yang ditetapkan oleh Sang Buddha untuk para bhikkhu; untuk para bhikkhuni adalah bhikkhuni- sila. Dasa sikkhapada yang dilakukan para samanera dan samaneri adalah anupasampanna- sila, dan gahattha- sila adalah Pancasila atau Atthangika Uposattha yang dilakukan pada hari tertentu, khususnya hari uposattha.
·         Pakatti- sila, acara- sila, dhammata- sila, pubbahetuka- sila.
Pakatti- sila suatu sila alamiah yang berlaku dimana- mana tanpa dibatasi zaman. acara- sila adalah tradisi yang terdapat dalam masyarakat yang mencakup: tata tertib, peraturan, tatasusila yang terdapat dalam diri seseorang ataupun masyarakat.
Dhammata- sila adalah sila yang terdapat dalam peristiwa luar biasa seperti sila yang dilakukan seorang ibu yang mengandung Bodhisatta. Sila yang timbul dari makhluk suci yang timbul dari pengamalan hidupnya yang lalu adalah pubbahetuka- sila.
·         Patimokkha- samvara- sila, indriya- samvara- sila, ajivapari- suddhi- sila, dan paccaya- sannissita- sila.
Patimokkha- samvara- sila adalah sila berupa pengendalian diri dengan Patimokkha- sila. Sila yang berupa pengendalian indera adalah indriya- samvara- sila. Sila berupa pengendalian memperoleh kebutuhan hidup dari mata pencaharian yang salah seperti: penipuan, menjilat, memaksa, memberi sedikit dengan harapan memperoleh banyak adalah ajivapari- suddhi- sila, dan sila berupa penggunaan emapt kebutuhan pokok yang sesuai fungsi pokoknya dalam kehidupan samana disebut paccaya- sannissita- sila.
Keempat sila ini dilaksanakan oleh para bhikkhu dan bhikkhuni. Juga para samanera dan samaneri namun tak seluas bhikkhu dan bhikkhuni.
            Klasifikasi kelima, terdiri dari dua bagian yaitu:
·         Pariyamtaparisuddhi- sila (sila yang terbatas penyuciannya). Sila ini bukan untuk orang yang belum mengalami upasampada menjadi bhikkhu atau bhikkhuni.
Apariyantaparisuddhi- sila (sila yang tidak terbatas penyuciannya) adalah sila untuk orang  yang telah mengalami upasampada menjadi bhikkhu atau bhikkhuni.
Paripunaparisuddhi- sila (sila yang paripurna penyuciannya) adalah sila oarang duniawi yang terbebas dari keinginan dan pandangan salah.
Aparamatthaparisuddhi- sila (sila dari sekha- puggala yang masih memerlukan penyucian) adalah sila dari Ariya puggala mulai dari sotapanna- magga sampai arahanta- magga yang masih latihan untuk menyempurnakan silanya.
Patipasadhiparisuddhi- sila (sila yang tidak memerluka latihan lagi) adalah sila dari seorang arahat.
·         Pahana- sila (sila meninggalkan), veramani- sila ( sila menghindari), cetana- sila ( sila kemauan atau kehendak), samvara- sila (sila pengendalian diri), dan avitkkama- sila (sila pelanggaran).
e.       Signifikansi Sila dalam kehidupan religius.
Sila bagi seorang bhikkhu atau bhikkhuni apabila dilanggar akan berakibat
buruk bagi kehidupan pabajitanya. Jika melanggar mereka bisa saja dikeluarkan dari sangha dan diminta lepas jubah secara tidak hormat.
            Dalam kehidupan religius atau beragama, sila sangat penting berperan menciptakan toleransi antar umat beragama. Ketika pikiran, ucapan, dan perbuatan kita terkontrol oleh karena adanya sila, kita kan selalu bertindak positif dan tidak merugikan umat lain.
            Dengan demikian, sila dapat berperan dalam menciptakan suasana harmonis antar umat beragama dimana tidak ada lagi umat beragama mengganggu ibadah umat lain. Asalkan kita selalu melaksanakannya dalam kehisupan sehari- hari.


Referensi:
Rashid, Teja S. M. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Penerbit Buddhis BODHI.
Maurice Walshe. 2009. Digha Nikaya. ------: Dhamma Citta Press.
http://buddhaschool.blogspot.com/2012/01/s-i-l.html (diakses tanggal 01 Oktober 2012)


CHEAT GTA SAN ANDREAS

8:35 PM Add Comment


 Pecinta game GTA, bingung ingin cari cheat. Anda beruntung karena saya menyediakannya untuk anda bentuk PDF sehingga anda tidak repot googling terus untuk mencari cheat.Cukup download sekali anda bisa menggunakannya berkali-kali. Silahkan download dengan meng-klik link di bawah ini.

 Download cheat GTA San Andreas PC
http://www.4shared.com/office/eGem_T-lba/cheat_gta_san_andreas.html 
Download cheat GTA San Andreas PS 2 lengkap
http://www.4shared.com/office/Ur39UkRxce/CHEAT_GTA_SAN_ANDREAS_UNTUK_PS.html