Loading...

infeed1

DHARMADUTA

8:18 PM Add Comment
Latar belakang

            “aku telah bebas, o para bhikkhu, dari semua belenggu, baik surgawi maupun mansiawi”.”kalian juga, o para bhikkhu, telah bebas dari semua belenggu, baik surgawi maupun manusiawi”.

            “pergilah, o para bhikkhu, demi kebaikan semua pihak, atas dasar kasih sayang kepaa dunia, demi kebaikan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi dalam sat arah. Ajarkanlah, o para bhikkhu, dhamma, yang indah pada awal, indah pada pertengahan, indah pada akhirnya, baik yang tersirat maupun tersurat. Nyatakanlah Kehidupan Suci, yang sempurna dan murni”.

            “Ada manusia dengan sedikit debu pada mata mereka, yang jika tidak mendenggar dhamma akan jatuh. Mereka itulah yang akan memaham dhamma”.

            “aku juga, o para bhikkhu, akan pergike Uruvela di Senanigama, dalam rangka mengajar dhamma”.

“Kalian yang telah melaksanakn tugas kalian, kibarkanlah Bedera Orang Bijaksana. Ajarkanlah Dhamma Agnng. Bekerjalah demi kebaikan pihak lain”


Itulah yang dikataka Sang Buddha sewaktu mengutus murid- muridnya untukmenyebarkan Dhamma , sehingga Dharmaduta dilaksanakan.

Pengertian Dharmaduta

Dharmaduta, secara etimologis berasal dari dua kata yaitu “Dhamma” artinya ajarn Buddha sedangkan ‘Duta” adalah petugas atau pengemban. Dharma duta berarti Pengemban dan petugas Dhamma. Dharmaduta dalam terminologi Buddhis dikenal sebagai penyebar atau pengkhotbah Dhamma.

Tujuan Dharmaduta

            Secara khusus bertujuan untuk :

1.      Memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Ajaran Sang Buddha.

2.      Agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dhamma dan Vinaya secara benar.

3.      Melindungi Ajaran Buddha dari Usaha penyelewengan , sehingga umat menjadi bijaksana.

Buddha menyebutkan tujuan dhammaduta, agar umat menjadi :

1.      Bijaksana dalam melaksanakan peraturan (Sila/ Vinaya) secara benar

2.      Cakap dan terpelajar.

3.      Memelihara Dhamma.

4.      Hidup sesuai Dhamma.

5.      Berpegang teguh pada pemimpin yang telah ditetapkan ( dalam musyawarah ).

6.      Memepelajari sabda- sabda , khotbah- khotbah Sang Buddha, kemudian mnerangkan kepada orang lain.

Sejarah Dhammaduta

Pembabaran Roda Dhamma yang pertama kali di taman Rusa Isipatthana , itulah yang menjadi tonggak pertama sisitem ke-Dharmadutaan. Dharmaduta pertama kali dilaksanakan pada masa pemerintahan raja Asoka yaitu di tandai dengan pengiriman 9 kelompok dharmaduta ke sembilan penjuru, termasuk pengiriman dharmaduta ke Srilanka yang dipimpin oleh Arahat Mahinda Thera, putra dari Raja Asoka.Menurut mahavamsa , setelah mendapat perbekalan yang cukup Arahat Mahinda Thera bersama Thera Itthiya, Uttiya, Sambala, dan Baddhasala, Sumana Samanera  Upasaka Bhanduka terbang ke Srilanka, 236 setelah Mahaparinibbana dari Sang Buddha.

Kesimpulan

            Dharmaduta dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintaha Raja asoka dengan mengirimkan 9 kelompok Dharmaduta ke sembilan penjuru. Dan juga ke Srilanka yang dipimpi oleh anaknya Arahat Mahinda Thera. Dharmaduta bertujuan supaya ajaran Sang Buddha tetap lestari.

MEDITASI PRAKTIK UNIVERSAL

8:10 PM Add Comment
Book Review 2

Meditasi Praktik Universal

            Dalam agama Buddha meditasi sudah dikenal sejak jaman ketika Sang Buddha masih hidup. Bahkan banyak umat- umat lain juga suka dengan meditasi walaupun caranya berbeda.

Sahabat Dharma yang berbahagia. Banyak orang mengira meditasi hanyalah teknik agama- agama di Asia. Sejumlah penganut Yahudi dan Kristen bahkan berargumen bahwa meditasi tidak punya tempat yang sah dalam agama mereka, dengan mengatakan bahwa “pikiran yang kosong adalah tempat setan” atau “berpangku tangan adalah musuh jiwa”. Namun, semua orang yang telah meditasi tahu perbedaan yang besar antara berpangku tangan untuk bermalas- malasan dengan kedamaian yang dalam yang diperoleh dari praktik meditasi.

Dengan melaksanakan meditasi bukan hanya kedamaian yang diperoleh namun pencapaian yang lebih tinggi juga akan diperoleh dengan syarat kita juga memiliki landasan Sila yang baik. Dengan demikian maka nafsu keinginan dapat dikikis secara perlahan. Meditasi dapat dilakukan dalam waktu yang sesuai asal diri kita siap baik dari jasmani maupun batin kita. Sebaiknya kita tidak memandang salah sebuah hal sebelum membuktikannya. Faktanya meditasi mulai berkembang dimana- mana bukan hanya untuk kepentingan spiritual semata namun juga untuk kepentingan kesehatan tidak memandang agama, bahkan sekarang anak kecil sudah diberikan pelajaran tentang meditasi beserta praktiknya.

Referensi:

Chandra, Johny. 2007. Pejuang Batin. Surakarta: Vihara Dhamma Sundara



GHOTAMUKHA SUTTA

8:05 PM Add Comment
Kepada Gothamukha
Tempat: Khe­miyambavana, Baranasi.

Inti Sutta

                 Suatu diskusi terjadi antara Bhante Udena dan seorang brahmana bernama Ghoṭamukha berkenaan dengan praktek kehidupan suci. Bhante Udena menjelaskan 4 macam manusia yang menjalani praktek pertapa.
  1. Ada orang yang suka menyiksa dirinya, tertarik dalam penyiksaan dirinya.Di sini seorang manusia yang telanjang, menolak adat, menjilat tangannya, tidak datang bila ditanya, tidak berhenti bila ditanya; dia tidak menerima apa-apa dari luar dari sebuah pot, dari luar sebuah mang­kok, melewati ambang pintu, melewati tongkat, melewati sebuah alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama-sama, dari seorang wanita yang bersa­ma anaknya, dari seorang wanita yang sedang menyususi anaknya, dari (tempat) seorang wanita yang sedang berbaring, dari tempat makanan yang diiklankan untuk disalurkan, dari tempat seekor anjing sedang menunggu, dari tempat lalat mendengaung; dia tidak menerima daging atau ikan, dia tidak minum minuman keras, anggur atau minuman yang memabukkan; dia tetap ke satu rumah, untuk sesuap  makanan; dia tetap ke dua rumah, untuk dua suap makanan .... Ia tetap ke tujuh rumah, untuk tujuh suap makanan. Dia hidup dengan satu cawan, dengan dua cawan .... Dengan tujuh cawan, sehari; dia mengambil makanan sehari seka­li, dua hari sekali .... Tujuh hari sekali, dan begitulah sampai empat belas hari sekali. Dia tetap mengikuti praktik mengambil makanan pada saat istira­hat. Dia seorang pemakan sayur-sayuran, atau padi-padian, atau padi liar, atau dedak, atau lumut, atau dedak padi, atau ampas, atau tepung sesamun, atau rumput, atau pupuk sapi; dia hidup dengan akar hutan dan dengan buah-buahan sebagai sumber rezeki pengisi perut. Dia berpakaian dengan rami, dengan pakai­an yang bercampur rami, dengan kain kafan, dengan kain compang-camping yang sudah tak terpakai, dengan kulit pohon, dengan kulit rusa, dengan barang tenunan rumput kusa, dengan barang tenunan kulit pohon, dengan barang tenunan kulit kayu, dengan wol rambut kepala, dengan wol hewan, dengan sayap burung hantu. Dia yang mencukur rambut dan jenggotnya, mengikuti praktek mencukur rambut dan jenggotnya. Dia yang berdiri terus menerus, menolak tempat duduk. Dia yang jongkok terus menerus, setia untuk tetap berposisi jongkok. Dia merupakan seorang yang menggunakan matras yang  berpaku besar; dia membuat matras berpaku besar sebagai tempat tidurnya. Dia tetap mengikuti praktik mandi dalam air untuk waktu yang ketiga kalinya di malam hari. Nyatanya dia tetap mengikuti praktik penyiksaan dan penganiayaan tubuh dalam aspek utama­nya. Inilah manusia yang disebut penyiksa diri, yang senang dengan penyiksaan diri.
  2. Ada orang yang suka menyiksa orang lain , dan tertarik dalam penyiksaan orang lain. Di sini ada manusia yang merupakan penjagal domba, penjagal babi, penjagal unggas, pemasang perangkap binatang buas, seorang pemburu, seorang penangkap ikan, pelaksana hukuman untuk narapidana, seorang penjaga penjara, atau mengikuti pekerjaan berdarah lainnya. Inilah yang dise­but manusia yang menyiksa makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
  3. Ada orang  yang suka menyiksa dirinya sendiri, terta­rik dalam penyiksaan diri sendiri, juga ia menyiksa orang lain, tertarik  dalam penyiksaan orang lain. Di sini seseorang  yang merupakan prajurit yang mulia yang memberi perminyakan suci, raja, atau hartawan besar. Dia mempunyai kuil suci yang baru yang dibuat untuk kota bagian timur, dan telah mencukur rambut dan jenggotnya, berpakaian dengan kulit yang kasar dan meminyaki tubuhnya dengan susu mentega dan minyak, mencakar punggungnya dengan tanduk rusa, dia masuk ke kuil pengorbanan bersama dengan ratu dan pendeta terhormat dari kasta brahmana. Di sana dia berbaring di atas tanah kosong yang berumput di atasnya. Raja menggunakan susu yang ada dalam puting susu sapi bersama anak sapi dari warna yang sama sedangkan ratu menggunakan susu yang berada dalam puting susu kedua, dan pendeta terhormat brahmana ini menggunakan susu yang berada dalam puting susu yang ketiga, dan susu yang berada dalam puting susu yang keempat mereka tuang ke dalam api : anak sapi menggunakan susu yang tersisa. Dia berkata demikian : "Biarkan sekian banyak sapi jantan disembelih untuk pengorbanan, biarkan sekian banyak pohon ditebang untuk tempat pengorbanan, biarkan sekian banyak rumput dipotong untuk rumput pengor­banan." Dan kemudian para budaknya dan pesuruh dan pelayannya membuat persia­pan dengan wajah yang menyedihkan dan menangis, mereka yang didorong oleh ancaman hukuman dan oleh rasa takut. Inilah yang disebut jenis manusia yang menyiksa diri sendiri, yang senang dengan penganiayaan diri, dan penyiksaan makhluk lainnya, yang senang dengan penganiayaan makhluk lainnya.
  4. Ada orang  yang tidak ingin menyiksa  dirinya  sen­diri, tidak tertarik dalam penyiksaan dirinya sendiri, ia pun tidak menyiksa orang lain, tidak tertarik dalam penyik­saan orang lain;  karena ia tidak menyiksa diri sendiri maupun  orang  lain, di sini dan sekarang ia tidak kepana­san, padam, dingin, ia hidup mengalami kesenangan seperti seseorang yang menjadi brahma dalam dirinya. Di sini, seorang Tathagata muncul di dunia, yang besar menjadi Arahat dan mencapai pencerahan sempurna, sempurna dalam pengetahuan yang besar dan perbuataan, yang mengetahui semua dunia, pemimpin yang tak dapat ditandingi untuk menjinakkan manusia, guru para dewa dan manusia, yang mencapai pencerahan, yang diberkahi.


Penjelasan mengenai  keempat hal ini lebih detail terdapat dalam Kandaraka Sutta 8- 29.

Kemudian Bhante Udena juga menanyakan kepada Brahmana Goṭamukha untuk memilih salah satu diantara dua jenis manusia. Dua jenis kelompok tersebut adalah:
  1. Ada  kelompok yang ingin permata dan anting-anting, mencari pekerja wanita dan pria, mencari ladang dan tanah, mencari emas dan perak.
  2.  Ada kelompok lain yang sama sekali tidak menginginkan permata dan anting-anting, meninggalkan istri dan anak-anak, meninggalkan pekerjaanya, laki dan perempuan, meninggalkan ladang-ladangnya dan tanah­nya, meninggalkan emas dan perak, meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi tak berumah-tangga. Juga kelompok ini tidak menyiksa diri mereka, tidak tertarik  menyiksa orang lain; kelompok ini, karena mereka tidak menyiksa diri mereka dan orang lain, maka  di sini dan sekarang mereka tidak panas, padam, dingin dan telah menjadi brahma dalam dirinya, mereka hidup dengan menyenangkan.

                 Setelah khotbah itu, brahmana itu pun menjadi siswa Bhante Udena dan berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha akan memberikan dana berupa vihara yang didirikan di Pataliputta. Sekarang tempat ini bernama Ghotamukhi.

Pesan Moral


Berdiskusilah hal positif yang memberikan pengetahuan dan pencerahan bagi diri kita dan orang lain.

Referensi
 Anggawati, Lanny.2000.Panduan Tipitaka. Klaten: Wisma Sambodhi.
Anggawati, Lanny. 2006. Majjhima Nikaya 5. Klaten: Wisma Sambodhi.
  http://majjhimanikaya-rustam.blogspot.com/2010/03/ghotamukkha-sutta.html (diakses tanggal 17 November 2012)

Khandhasaṃyutta Khotbah Berkelompok Tentang Kelompok-kelompok Unsur Kehidupan

7:55 PM Add Comment
 NAKULAPITA SUTTA

Tempat: Suku Bhagga di Sumsumaragira di Hutan Bhesakala, Taman Rusa.

Latar Belakang:

Mengenai seorang perumah tangga bernama Nakulapita yang meminta nasihat kepada Sang Bhagava supaya terarah pada kesejahteraan dan kebahagan dalam waktu yang lama.

Inti:

            Kemudn Sang Bhagava menaasihati Nakulapita untuk melatih pikiran “Ketika aku sengsara tubuh, pikiranku tidak akan sengsara”. Setelah mendengar hal ini kemudn Nakulapita menemui YM Sariputta dan mengulang pernyataan ketika bertemu Sang Bhagava. Kemudn YM Sariputta menjelaskan mengenai bagaimana seseorang dapat ditubuh dan sengsara di pikiran.


·         Menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku”. Selama  hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentuk itu berubah. Dengan perubahan bentuk itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah perasaan, perasaan adalah milikku”. Selama hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, perasaan itu berubah. Dengan perubahan perasaan itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah persepsi, persepsi adalah milikku.” Selama hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, persepsi itu berubah. Dengan perubahan persepsi itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap bentukan-bentukan kehendak sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan kehendak, atau bentukanbentukan kehendak sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan kehendak. Hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentukan-bentukan kehendak, bentukan-bentukan kehendak adalah milikku”. Selama  hidup dikuasai oleh gagasangagasan ini, bentukan-bentukan kehendak itu berubah. Dengan perubahan bentukan-bentukan kehendak itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.  hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah kesadaran, kesadaran adalah milikku.” Selam hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, kesadaran itu berubah. Dengan perubahan kesadaran itu, muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

YM Sariputta juga menjelaskan mengenai bagaimana seseorang sengsara dalam tubuh tetapi tidak sengsara dipikiran.

·         Tidak menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Tidak dengan hidup dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentuk itu berubah. Dengan perubahan bentuk itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah perasaan, perasaan adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, perasaan itu berubah. Dengan perubahan perasaan itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah persepsi, persepsi adalah milikku.” Selama hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, persepsi itu berubah. Dengan perubahan persepsi itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap bentukan-bentukan kehendak sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan kehendak, ataubentukan-bentukan kehendak sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan kehendak.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah bentukan-bentukan kehendak, bentukanbentukan kehendak adalah milikku.” Selama hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentukan-bentukan kehendak itu berubah. Dengan perubahan bentukan-bentukan kehendak itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

·         Tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.  tidak hidup dengan dikuasai oleh gagasan: “Aku adalah kesadaran, kesadaran adalah milikku.” Selama  hidup tanpa dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, kesadaran itu berubah. Dengan perubahan kesadaran itu, tidak muncul dalam dirinya penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan.

Inilah pernyataan YM Sariputta kepada Nakulapita. Dengan sangat bergembira, perumah tangga Nakulapita bersukacita dengan pernyataan YM Sariputta.


Pesan Moral:

Pikiran itu lebih liar daripada binatang busa sekalipun. Maka marilah kita berlatih mengendalikan pikiran kita agar hidup kita selalu tentram. Tubuh kita boleh sakit tetapi jangan sampai pikiran kita ikut sakit.


Referensi:

-----------. 2009. Samyutta Nikaya 5. Klaten: Wisma Sambodhi.

Bhikkhu Bodhi. 2010. Terjemahan Baru Samyutta Nikaya. Jakarta: DhammaCitta Press. (PDF File).