infeed1

METAFISIKA DAN ELEMEN- ELEMENNYA DALAM BUDDHIS

7:39 PM


A.    Latar Belakang

Banyak orang menganggap metafisika berkaitan dengan hal- hal yang bersifat gaib. Atau juga ada yang menganggap metafisika sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam- alam setan ataupun yang berhubungan dengan klenik. Persepsi tersebut sebenarnya tidak dapat disalahkan, karena dalam arena perebutan makna sebuah istilah, maka sebuah istilah termasuk metafisika seiring perubahan waktu dalam konteks sosial dan sejarah jelas mengalami pergeseran makna yang digunakan oleh masyarakat, terutama masyarakat awam. Memang hal-hal supranatural juga termasuk atau tercakup dalam definisi metafisika, namun metafisika tidak dapat diartikan sepenuhnya adalah mengenai supranatural, kian lama agaknya definisi metafisika tidak menunjuk pada objek definitif yang diwakilinya. Hal yang sama seperti ketika sekarang dalam mempelajari filsafat lebih familiar diketahui adanya ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai batang tubuh atau elemen-elemen fundamental kajian filsafat, dan seakan melupakan metafisika.

B.     Pengertian Metafisika

Pada mulanya istilah metafisika digunakan di Yunani untuk merujuk pada karya-karya tertentu Aristoteles (384-322 SM). Namun sebenarnya istilah metafisika bukanlah dari Aristoteles, metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau theologia, dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika. (Loren Bagus, Matafisika, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 18)

Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya tentang metafisika antara lain:
  • Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari pronsip-prinsip fundamental  dan penyebab-penyebab pertama.
  • Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.
  • Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan, yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia.

Ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut,  sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu,
  1. yang ada sebagai yang ada being qua being dan
  2. yang Ilahi.

Namun demikian Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua obyek kajian sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang berbeda. Seorang filosof  Jerman bernama Christian Wolff cenderung meyakini bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan yang Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh karenanya, Wolff memilah filsafat pertama Aristoteles menjadi metaphysica generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut ontologi dan methapysica specialis (metafisika khusus).

Pengertian Metafisika Dalam Filsafat Menurut Para Ahli

Menurut Cristian Wolf (1679-1754), metafisika terbagi menjadi dua jenis. Pertama, metafisika generalis, yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontologi, dan kedua, metafisika spesialis yang terbagi menjadi tiga bagian besar,
  • antropologi, yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga,
  • kosmologi, yang membahas asal-usul alam semesta dan hakikat sebenarnya, dan
  • teologi, membahas mengenai Tuhan secara rasional.

Bahasan yang terdapat dalam metafisika secara umum antara lain meliputi,

(1) yang-ada (being), 
(2) kenyataan (reality),                      
(3) eksistensi (existence),      
(4) esensi (essence),   
(5) substansi (substance),      
(6) materi (matter),    
(7) bentuk (form),      
(8) perubahan (change),         
(9) sebab-akibat (causality), dan       
(10) hubungan (relation).

C.     Elemen- elemen Metafisika

a.      Secara Umum

Elemen- elemen metafisika secara umum adalah sebagai berikut:

·   Elemen Sejati, yaitu Cahaya dan Kegelapan (disebut juga Keteraturan dan Kekacauan).

·   Elemen Alam, yaitu Api, Air, Angin, dan Tanah.

·   Elemen Campuran, yang merupakan hasil penggabungan dari Elemen Sejati dan Elemen Alam; terdiri dari:

1.      Gravitasi (Api + Angin + Cahaya)

2.      Petir (Api + Angin + Kegelapan)

3.      Es (Air + Angin + Cahaya)

4.      Kabut (Air + Angin + Kegelapan)

5.      Isara (Api + Tanah + Cahaya)

6.      Meteor (Api + Tanah + Kegelapan)

7.      Kayu (Air + Tanah + Cahaya)

8.      Logam (Air + Tanah + Kegelapan)

·   Elemen Individu, yaitu elemen-elemen yang membentuk seorang individu; terdiri dari Persona/Karakter, Raga, Ruh, dan Akal/Pikiran.

b.      Secara Buddhis

Dilihat dari elemennya secara umum, maka dalam agama Buddha tepatnya dalam Abhidhamma, dijelaskan juga mengenai unsur- unsur tersebut dalam Rupa 28. Rupa adalah keadaaan yang dapat berubah dan bercerai dengan kedinginan dan kepanasan. Rupa terbagai menjadi 2 yaitu:

·   Mahabhutarupa 4: 4 unsur dasar yang besar.

1.      Pathavi Dhatu: unsur tanah atau padat.

2.      Apo Dhatu: Unsur Air atau Cair.

3.      Tejo Dhatu: Unsur Api atau Panas.

4.      Vayo Dhatu: Unsur Angin atau Gerak.

·   Upadayarupa 24: 24 macama berasal dari materi

1.      Pasadarupa 5: 5  materi yang mampu menerima obyek.

a.       Cakkhu Pasada: Landasan Mata.

b.      Sota Pasada: Landasan telinga.

c.       Ghana Pasada: Landasan hidung.

d.      Jivha Pasada: Landasan Lidah.

e.       Kaya Pasada: Landasan jasmanni.

2.      Visayarupa 4: 4 yang menjadi objek panca indera.

a.       Ruparammana: Obyek bentuk.

b.      Saddarammana: Obyek Suara.

c.       Gandharammana: Obyek bau.

d.      Rasarammana: Obyek rasa.

3.      Bhavarupa 2: 2 macam  kelamin.

a.       Itthibhava: unsur betina

b.      Purisabhava: Unsur jantan

4.      Hadayarupa 1:

a.       Hadayarupa: unsur batin sanubari

5.      Jivitarupa 1

a.       Jivitarupa: unsur kehidupan

6.      Ahararupa 1

a.       Kabalikarahara: unsur makanan

7.      Paricchedarupa 1

a.       Paricchedarupa: unsur dari ruangan

8.      Vinnatirupa 2: 2 bentuk perhubungan

a.       Kaya vinnati: unsur isyarat dengan gerakkan badan.

b.      Vaci vinnatti: unsur isyarat dengan kata- kata.

9.      Vikararupa 3: 3 macam gaya plastis.

a.       Lahuta: unsur gaya ringan.

b.      Muduta: Unsur gaya menurut.

c.       Kammannata: unsur  gaya menyesuaikan diri.

10.  Lakkhana rupa 4: 4 corak yang khas.

a.       Upacaya: unsur sempurna.

b.      Santati: Unsur bergantung terus.

c.       Jarata: unsur kelapukkan.

d.      Aniccata: Unsur tidak kekal.


D.    Kesimpulan

Elemen- elemen metafisika secara umum tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat dalam Rupa 28. Hanya saja memang pada Rupa 28 ada beberapa unsur yang kalau dipahami kurang sesuai.

Tepatnya elemen-  elemen metafisika sama dengan unsur utama yang besar (Mahabhuta rupa 4). Yang dalam elemen metafisika unsur tersebut digabungkan sehingga ada elemen yang disebut dengan elemen campuran.Mahabhuta rupa 4 lebih sesuai dengan elemen alami pada elemen umunya sedangkan elemen individu lebih cenderung ke Upadaya rupa 24.


Referensi:

ü  Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta; Trisattva Buddhist Centre.

ü  Panjika. 2005. Abhidhammatthasangaha. Tangerang; Vihara Padumuttara.

ü  http://www.vandaria.com/metafisika-elemen-pembentuk (diakses tanggal 06 Maret 2013)

ü  http://www.sarjanaku.com/2012/10/pengertian-metafisika-dalam-filsafat.html (diakses tanggal 06 Maret 2013)

·         http://parapsikolog.wordpress.com/arti-metafisika/ (diakses tanggal 06 Maret 2013)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »